Cukup
mengkhawatirkan ketika kita menyaksikan sendiri bahwa jutaan saudara kita di
Negara ini masih hidup dibawah garis kemiskinan. Tak pelak, terkadang kita
mudah saja berbicara bahwa “Pemerintah gagal”. Tentu kita akan sangat mudah
berbicara seperti itu, dan melimpahkan semua kesalahan pada satu pihak. Karena
kita merasa tidak terlibat dalam kenyataan ini. Tapi kita tidak bicara
bagaimana seharusnya pemerintah memerangi kemiskinan bla bla bla. Saya hanya
ingin berbagi pandangan.
Ada satu hal
yang patut dipertanyakan, apa betul dari jutaan warga miskin itu betul-betul
miskin? Atau sebagiannya bermental miskin?
Terdapat
perbedaan yang kentara antara miskin dengan bermental miskin. Miskin adalah
kondisi hidup manusia yang sulit untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam hidupnya.
Sementara bermental miskin adalah kondisi psikologis, dimana seseorang selalu
merasa tidak berkecukupan dan mengharap belas kasih dari orang lain untuk
membantu memenuhi kebutuhannya. Entah kebutuhan pokok, ataupun hanya kebutuhan
sekunder maupun tersier. Paling tidak, ada 3 hal yang berhubungan dengan miskin
dan bermental miskin yang perlu kita cermati.
Orang miskin belum tentu bermental miskin.
Pada realitanya, banyak orang miskin yang enggan berpangku tangan dan menunggu
belas kasihan dari orang lain. Mereka memilih bekerja dan berusaha, sebagai
cara terhormat untuk lepas dari kemiskinannya. Tak jarang, mereka harus memeras
keringat berkali lipat, tidur lebih singkat, berhadapan dengan maut lebih
dekat, dan mengambil resiko yang lebih berat. Tentu dilandasi dengan kejujuran.
Inilah orang miskin yang tidak bermental miskin, mereka bekerja untuk mengubah
nasibnya. Dan tentu memiliki keyakinan bahwa Tuhan tak akan mengubah nasibnya
kecuali ia sendiri yang berusaha mengubahnya, sebagaimana sudah dijelaskan
dalam Q.S Ar-Ra’d Ayat 11.
Orang yang bermental miskin bisa jadi memang
orang miskin. Mari kita cermati. Memang, banyak juga orang miskin yang
bermental miskin. Hanya memangku tangan menunggu lembaran demi lembaran rupiah
berpindah padanya. Mudah saja kita temui orang-orang yang menjadikan mengemis
sebagai profesi karena hasil dari mengemis jauh lebih besar dibanding bekerja,
dengan usaha yang lebih sedikit tentunya. Ada yang menyuruh anaknya mengemis di perempatan jalan
untuk mendapatkan uang, sementara sang orang tua bersantai di tempat yang
teduh. Ada juga yang menyatakan diri miskin agar dapat menerima BLT atau Raskin, padahal mampu membeli beras.
Ya, mereka mungkin memang betul orang miskin dan mereka juga bermental miskin.
Orang yang bermental miskin bisa jadi bukan
orang miskin. Ini fenomena yang saya amati belakangan sedang terjadi. Tidak
sedikit orang-orang yang sesungguhnya sudah berkecukupan, tapi merasa tidak
punya apa-apa. Bukan rendah hati, tapi tidak bersyukur. Kita ambil contoh gampang,
maksudnya kurang lebih seperti ini. Di era hi-tech ini,
perkembangan teknologi begitu pesat. Gadget adalah salah satu produk dari era teknologi canggih ini.
Banyak orang yang tidak ingin ketinggalan segala tren gadget ini. Dan ketika mereka tidak bisa memiliki apa yang sedang menjadi tren dan mereka
inginkan tersebut, kemudian mereka merasa tidak memiliki apa-apa. Lupa
bersyukur atas gadget-gadget yang
telah mereka miliki sebelumnya. Lupa bahwa tidak semua orang bisa menikmati
mutakhirnya gadget dan menganggap gadget adalah suatu kebutuhan primer,
setara sandang, pangan, dan papan padahal bukan. Kemudian mereka meminta untuk
dibelikan gadget terbaru tersebut
pada orang tuanya, misalkan, tanpa memikirkan kondisi keuangan orangtuanya. Ini yang saya maksud
dia bukan orang miskin, tapi mentalnya miskin karena tidak mampu bersyukur atas
apa yang telah dimilikinya. Mereka yang lupa melihat kebawah, bahwa masih
banyak saudara-saudaranya yang kurang beruntung.
Maka, saya yakin
jika ada data tentang “ jumlah orang bermental miskin” sekarang, jumlahnya akan
lebih besar dari data “jumlah orang miskin” saja. Karena sepertinya masih
banyak orang yang malas berusaha. Masih banyak orang yang selalu merasa tidak
berkecukupan. Masih banyak orang yang tidak menerapkan prinsip qanaah dalam hidupnya.
Yang perlu kita
yakini adalah besarnya usaha yang kita lakukan akan berbanding lurus dengan apa
yang kita dapatkan. Jika memang hasil yang kita dapatkan tidak sebanding,
yakinlah bahwa kemuliaan yang kita dapatkan jauh lebih besar daripada itu.
Semoga kita tidak termasuk orang yang bermental miskin dan tetap membantu
sesama manusia untuk mencapai kemuliaan hidup, tidak hanya sekedar “mendapat
hasil yang besar”.
We’ll get what we deserve.