Malam
hari ini terasa cukup panas. Perlahan tapi pasti tubuh ini pun beradaptasi
terhadap suhu sekitar dengan berpeluh. Basah. Ditambah lagi, perlu usaha ekstra
untuk sekedar bernafas. Singkatnya bengek.
Ngak ngik ngok. Situasi seperti ini
sungguh membuat otak sangat tidak segar. Lalu saya berpikir sepertinya menulis
bisa buat otak saya segar. Dan sungguh, baru buat prolog ini saja sudah terasa
khasiatnya. Otak makin-makin tidak segar. Kesalahan fatal. Tapi tidak apa-apa,
siapa saja bisa salah toh? Maka karena sudah kepalang edan, mari kita lanjutkan
saja supaya setidaknya ini bisa menjadi suatu kesalahan yang bermakna dan
bermanfaat, dan sangat mungkin pula bermudarat.
Pembaca
yang budiman/budiwati, setiap kali menulis selalu saja saya lakukan di malam
hari. Entah mengapa, sepertinya malam memang selalu punya magi tersendiri. Atau
memang saya gemar ngalong. Bekerja di
malam hari, tidur di siang hari sewaktu kuliah. Maka sepertinya dalam artikel
ini saya ingin membahas malam, sebagai dedikasi bagi kawan setia pemberi
inspirasi untuk ekspresi diri.
Malam
hari, adalah ketika sebahagian bumi tidak bertemu langsung dengan cahaya
matahari yang dapat menyibak eksotisme ragam keindahan warna di muka bumi. Tapi
terkadang kita dapat bertemu secara tidak langsung dengan cahaya matahari yang
memantul melalui bulan. Meskipun jutaan bintang lain juga turut meramaikan cahaya
di langit malam, intensitasnya tak akan pernah cukup untuk membuat kita
bisa membedakan warna hijaukah atau warna birukah, atau warna-warna lainnya.
Sampai akhirnya manusia menemukan cara membuat api, dan Thomas Alva Edison
menemukan bola lampu membuat malam kita menjadi lebih gemerlap.
Malam
hari, adalah ketika sebagian besar makhluk bernyawa beristirahat setelah
memenuhi kebutuhan hidupnya di siang hari. Ia memberi kesempatan beristirahat bagi
mata yang telah letih menerima refleksi berbagai macam peristiwa, otak yang
lelah berpikir, serta raga yang telah mengalami berbagai interaksi fisik. Ia membuai kita dengan selimut mimpi yang ia berikan bersama kantuk
dalam larutnya.
Malam
hari seringkali juga menampilkan sisi mistiknya. Ia kerap mendatangkan rasa
takut yang gaib bersama gelapnya. Rasa takut akan ketiadaan cahaya, rasa takut
akan munculnya sesuatu yang justru tidak terlihat dalam terangnya cahaya.
Disisi lain, banyak orang yang mendadak menjadi lebih garang di malam hari
seperti para pebalap liar jalanan. Malam memang bisa memberi pengaruh berbeda,
menciutkan nyali atau memompa adrenalin, bergantung siapa yang menerimanya.
Di
malam hari, tak hanya kelelawar dan hewan nokturnal lainnya yang berhamburan
mencari makanan. Ia pun menawarkan rezeki bagi manusia dengan berbagai cara.
Dengan cara biasa maupun dengan cara tak biasa, untuk sekedar menyambung hidup yang
banyak makan biaya setiap saat. Bagi sebagian manusia, malam bukanlah waktu
untuk berhenti. Gelap tak berarti mati. Selama masih ada denyut kehidupan, maka
rezeki masih bisa didapatkan.
Dan
itulah malam. Ruang gelap yang menanti untuk dijelajahi, yang terkadang dibenci
maupun dicinta, yang tak akan pernah berhenti untuk memberi inspirasi bagi
pengagumnya. Mengutip lirik lagu dari Pas Band, “Malam hari tetaplah malam, tak
pernah bisa menghilang”.