Kamis, 26 Mei 2016

Malam Tetaplah Malam

Malam hari ini terasa cukup panas. Perlahan tapi pasti tubuh ini pun beradaptasi terhadap suhu sekitar dengan berpeluh. Basah. Ditambah lagi, perlu usaha ekstra untuk sekedar bernafas. Singkatnya bengek. Ngak ngik ngok. Situasi seperti ini sungguh membuat otak sangat tidak segar. Lalu saya berpikir sepertinya menulis bisa buat otak saya segar. Dan sungguh, baru buat prolog ini saja sudah terasa khasiatnya. Otak makin-makin tidak segar. Kesalahan fatal. Tapi tidak apa-apa, siapa saja bisa salah toh? Maka karena sudah kepalang edan, mari kita lanjutkan saja supaya setidaknya ini bisa menjadi suatu kesalahan yang bermakna dan bermanfaat, dan sangat mungkin pula bermudarat.
Pembaca yang budiman/budiwati, setiap kali menulis selalu saja saya lakukan di malam hari. Entah mengapa, sepertinya malam memang selalu punya magi tersendiri. Atau memang saya gemar ngalong. Bekerja di malam hari, tidur di siang hari sewaktu kuliah. Maka sepertinya dalam artikel ini saya ingin membahas malam, sebagai dedikasi bagi kawan setia pemberi inspirasi untuk ekspresi diri.
Malam hari, adalah ketika sebahagian bumi tidak bertemu langsung dengan cahaya matahari yang dapat menyibak eksotisme ragam keindahan warna di muka bumi. Tapi terkadang kita dapat bertemu secara tidak langsung dengan cahaya matahari yang memantul melalui bulan. Meskipun jutaan bintang lain juga turut meramaikan cahaya di langit malam, intensitasnya tak akan pernah cukup untuk membuat kita bisa membedakan warna hijaukah atau warna birukah, atau warna-warna lainnya. Sampai akhirnya manusia menemukan cara membuat api, dan Thomas Alva Edison menemukan bola lampu membuat malam kita menjadi lebih gemerlap.
Malam hari, adalah ketika sebagian besar makhluk bernyawa beristirahat setelah memenuhi kebutuhan hidupnya di siang hari. Ia memberi kesempatan beristirahat bagi mata yang telah letih menerima refleksi berbagai macam peristiwa, otak yang lelah berpikir, serta raga yang telah mengalami berbagai interaksi fisik. Ia membuai kita dengan selimut mimpi yang ia berikan bersama kantuk dalam larutnya.
Malam hari seringkali juga menampilkan sisi mistiknya. Ia kerap mendatangkan rasa takut yang gaib bersama gelapnya. Rasa takut akan ketiadaan cahaya, rasa takut akan munculnya sesuatu yang justru tidak terlihat dalam terangnya cahaya. Disisi lain, banyak orang yang mendadak menjadi lebih garang di malam hari seperti para pebalap liar jalanan. Malam memang bisa memberi pengaruh berbeda, menciutkan nyali atau memompa adrenalin, bergantung siapa yang menerimanya.
Di malam hari, tak hanya kelelawar dan hewan nokturnal lainnya yang berhamburan mencari makanan. Ia pun menawarkan rezeki bagi manusia dengan berbagai cara. Dengan cara biasa maupun dengan cara tak biasa, untuk sekedar menyambung hidup yang banyak makan biaya setiap saat. Bagi sebagian manusia, malam bukanlah waktu untuk berhenti. Gelap tak berarti mati. Selama masih ada denyut kehidupan, maka rezeki masih bisa didapatkan.
Dan itulah malam. Ruang gelap yang menanti untuk dijelajahi, yang terkadang dibenci maupun dicinta, yang tak akan pernah berhenti untuk memberi inspirasi bagi pengagumnya. Mengutip lirik lagu dari Pas Band, “Malam hari tetaplah malam, tak pernah bisa menghilang”.

Jumat, 01 Januari 2016

Menyoal Waktu

Tepat pukul 00.00 waktu Margahayu Raya Barat, langit sudah ramai oleh warna warni dan hingar bingar kemeriahan kembang api menyambut bumi kita yang kembali menyelesaikan satu putaran mengelilingi matahari. Bahkan, 10 menit sebelum pukul 00.00 sudah banyak yang gatal dan duluan menyalakan kembang api. Mungkin mereka golongan manusia yang sudah ngantuk dan ingin cepat tidur. Tidak apa, perbedaan adalah sumber keasyikan dan keindahan, bagi mereka yang percaya. Tahun 2015 merupakan tahun terakhir sebelum tahun kabisat pada 2016. Berarti sejatinya bumi baru benar-benar selesai mengelilingi matahari setelah 365,75 hari, atau ±18 jam setelah pukul 00.00. Namun sepertinya tidak ada kaum antimainstream yang merayakan pergantian tahun jam 6 maghrib, mungkin takut pamali dan kuyup karena di Margahayu memang hujan.
Dalam kantuk serta linglung pasca malam tahun baru dan juga euforia liburan yang tertunda seminggu , mendadak saya ingin membuat sebuah artikel. Tenang saja, artikel ini tidak akan memuat target-target, harapan, resolusi pribadi saya di tahun baru, karena saya mengerti anda pun tidak akan peduli, teu ngaruh ka hirup dewek. Lagipula, saya orang yang cukup malas untuk membuat yang begitu-begitu. Di malam yang sesunyi ini, tiba-tiba saya ingin menggerutu soal waktu. Tapi karena saya bukan seorang yang kompeten untuk membahas waktu secara sains, maka saya akan membahas waktu dari sisi yang lain.

Mari mulai. 

Pembaca yang (mungkin) berbahagia, kita sebagai penghuni alam raya beserta mahkluk dan benda lainnya sudah dikodratkan untuk terjebak dalam waktu yang terus bergerak maju. Waktu memang sesuatu yang tidak dapat kita lihat, tapi dapat kita nyatakan dalam suatu ukuran. Diluar ukuran yang eksak, secara gaib waktu pun dapat dipersepsikan berbeda oleh tiap individu. 5 menit yang dirasa sangat cepat bagi individu yang sedang menikmati senda gurau bersama kawan-kawan terbaik akan menjadi 5 menit yang dirasa sangat lama (serta menyiksa) bagi orang yang sedang dalam perjalanan dan terjadi pemberontakan di dalam perut. Sebetulnya sama-sama saja 5 menit, secara pengukuran. Tapi karena adanya perbedaan kondisi dan situasi, terjadi pula perbedaan persepsi mengenai waktu. Sudah alamiah bahwa kita lebih menerima kondisi yang nyaman dibandingkan kondisi yang “menyebalkan”. Ketika kita sedang dibuai kenikmatan, kenyamanan, kita seringkali lalai akan adanya waktu. Sementara pada kondisi yang menyebalkan, justru kita dapat merasakan adanya waktu.  Suatu yang pasti, waktu tidak akan pernah kembali dalam kondisi apapun, dan pada akhirnya waktu akan diapresiasi dalam bentuk rasa syukur atau sesal.
Kemarin, saya nonton film The Other F Word (2011) yang merupakan film dokumenter perjalanan hidup para punk rockers yang kini sudah menjadi seorang ayah. Cukup menarik, bagaimana mereka berbicara mengenai dirinya yang selalu meneriakkan pemberontakan, salah satunya terhadap orang tua, kini mereka menjadi orang tua. Mereka menghabiskan masa muda dalam kekelaman, kebrutalan, bertindak bebas, dan tidak terkendali. Namun ketika mereka sudah jadi orang tua, mereka ingin anaknya tidak mengalami apa yang mereka alami semasa muda, yang sebagian besar ditinggalkan atau mengalami hal yang tidak mengenakkan dari figur seorang ayah. Ketidakhadiran seorang ayah, mengakibatkan hidup yang mereka jalani berada pada kondisi yang menyebalkan. Itulah mengapa, waktu yang dilalaikan seseorang dapat menjadi waktu yang terbuang sia-sia bagi orang lain. Waktu dilalaikan sosok ayah tersebut , adalah waktu yang terbuang sia-sia dan seharusnya didapat anak untuk merasakan kehadiran dan didikan dari ayahnya. Waktu terus bergerak, dan kini berganti mereka berposisi sebagai ayah. Mereka yang merasakan waktu mudanya bersama seorang ayah terbuang begitu saja, kini tidak ingin anaknya merasakan kepedihan yang sama seperti mereka. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada untuk dimanfaatkan bersama keluarganya yang dicintai.
Berbicara tentang waktu memang tidak akan ada habisnya. Dan selama waktu berjalan, akan selalu terjadi perubahan dan kejadian yang menyertai perjalanannya. Yang kuat akan menjadi lemah, yang lemah jadi kuat. Yang kecil jadi besar, yang besar jadi kecil. Dan lain-lain, sampai pada suatu titik waktu akan berhenti dan menjadi akhir.
Itulah. Sebaiknya disudahi saja supaya tidak semakin panjang waktu pembaca yang terbuang akibat membaca tulisan amatiran ini. Dan ketika menulis artikel ini, sesungguhnya saya sendiri bertanya-tanya dan berotokritik. “Buat apa nulis artikel tentang waktu. Bukannya kamu sendiri belum bisa menghargai waktu?”