Menikmati malam
dengan secangkir kopi, entah siapa yang pertama kali menemukan metode ini. Kopi
kental, cukup nikmat. Sembari menerawang dan melayangkan pemikiran-pemikiran
menjelang pergantian hari menurut kalender syamsiah. Sebenarnya saya ini tidak
benar-benar menghayati metode menikmati malam dengan secangkir kopi ini, tapi
setidaknya itulah kebiasaan para pendahulu yang saya amati dan coba saya ikuti,
sebagai generasi penerus.
Ditengah segala
ke-riweuh-an praktek kerja dan
tekanan tinggi akibat laporan yang tak kunjung melegakan, akhirnya saya
meluangkan waktu kembali untuk santai sejenak dan membuat tulisan yang sesungguhnya
tidak penting-penting amat bagi pembacanya. Sekedar menuangkan dan meluangkan
sedikit isi kepala supaya kepala tidak terlalu pagujud.
Begini. Pernahkah anda menemukan
suatu ironi di sekitar anda?
Ironi. Suatu pertentangan
atas harapan. Sesuatu yang tidak seharusnya dan sesuatu yang berlawanan namun
sudah menjadi takdir. Ironi adalah bagian dari kehidupan. Seorang dokter harus
berobat karena sakit, seorang penghibur yang justru depresi, penegak hukum yang
melanggar hukum, semua terjadi dalam kehidupan. Ironi yang terkini adalah,
ketika berkumpul bersama teman-teman, tampak seru di update-an media sosial namun pada kenyataannya sepi karena
masing-masing bukan asyik mengobrol atau melempar humor dengan teman yang ada
di depan mata tapi asyik dibuat nyengir oleh teman maya yang sebenarnya entah
ada dimana.
Mungkin manusia
memang gemar membuat suatu ironi. Lihatlah beberapa manusia yang ingin
menikmati keindahan alam dengan merusak alam. Lihat villa-villa dan perumahan
yang berada di daerah pegunungan yang menawarkan panorama indah, udara sejuk,
dan eksotisme alam kemudian dibanderol dengan harga mahal. Berapa luas alam
yang dirusak dan dampak yang harus ditanggung untuk kita dapat menikmati
keindahan alam? Logika “merusak alam untuk menikmati keindahan alam” sungguh
tidak dapat diterima bagi manusia yang sadar. Kemudian ironi ini memunculkan
ironi lainnya. Berapa banyak daerah dengan curah hujan tinggi tapi kesulitan
air?
Mungkin juga
manusia tak sadar bahwa ia sedang membuat suatu ironi. Kadang ketika kita
merasa paling hebat, pada saat itulah sebenarnya kita memperlihatkan kelemahan
kita. Ketika kita merasa paling benar, saat itulah kita melakukan kesalahan. Saat
kita merasa paling pintar, saat itulah kita sedang melakukan kebodohan. Saat
kita merasa paling berpikir, justru disitu kita sedang tidak memikirkan
perasaan orang. Ironi yang paling berat bagi saya pribadi adalah ketika melihat
orang yang merasa dirinya sudah sangat berilmu, besar, dan berpengaruh kemudian
meragukan, mengecilkan, dan mengesampingkan peran Tuhan. Bagaimana bisa dengan
ilmu kita yang hanya ibarat setetes air dari lautan tak berbatas dari ilmu
milik Tuhan bisa menyombongkan diri?
Pada akhirnya,
mata pula yang menyudahi tulisan ini. Kantuk memang bukan untuk dilawan, tapi
dinikmati hingga terbuai lelapnya tidur. Setidaknya, dari ironi kita bisa
belajar bahwa makna yang sesungguhnya bisa jadi bertentangan dengan apa yang
kita nyatakan.
Kita semua memang manusia yang tak terlepas
dari ironi.