Waktu dengan
cepat berlalu, jauh lebih cepat dari penanganan kebakaran hutan di sejumlah
wilayah di Indonesia. Beberapa bulan yang lalu saya menulis dalam kehebohan
rentetan tugas dan ujian perkuliahan Apoteker. Kini, saya menulis dalam vakum
tekanan di awal masa perkuliahan S2. Kalau dulu saya ngos-ngosan seperti
dikejar serigala lapar, kini saya merasa seperti sedang jalan-jalan sore dengan
seekor siput. Melaju terlalu lambat dan terlalu tenang. Tanpa disadari
orang-orang sudah jauh berlari menyusul dan meninggalkan saya. Ternyata memang
betul, waktu luang adalah salah satu sumber kelalaian bagi yang tidak mampu
mengambil manfaat.
Malam yang
dingin, rintik air yang turun secara berjamaah berduet dengan lantunan musik ngak ngik ngok begitu khidmat memanjakan
telinga. Alhamdulillah, akhirnya musim hujan tiba. Menandakan juga kembalinya
aroma tanah basah setelah hujan yang dirindukan selama bulan-bulan penuh peluh
siang malam. Musim kemarau kali ini memang cukup panjang. Dan selama kemarau
yang panjang ini pula banyak hal yang sudah berubah dalam dunia perkuliahan di
farmasi. Mahasiswa sudah jadi sarjana. Sarjana sudah jadi calon Apoteker. Calon
Apoteker sudah jadi Apoteker. Apoteker kembali lagi jadi mahasiswa. Ya, itu
semua terjadi selama musim kemarau. Yang
muda sudah jadi tua. Yang tua mana mungkin jadi muda. Terima saja.
Sebetulnya, ada
pelajaran yang dapat kita ambil dari fenomena cuaca yang terjadi. Lihat, hujan
yang sering dicaci ketika turun terus menerus karena menyebabkan banjir, kini
begitu dinanti-nanti kedatangannya. Begitu dirindukan, begitu diharapkan
kehadirannya. Pun sebaliknya, ketika hujan sedang turun terus menerus, kita
begitu merindukan hangatnya sengatan sang surya.
Apa artinya?
Kita tidak bisa
menerima sesuatu yang sama secara berulang-ulang dan terus menerus. Contoh
sederhana, ketika kita minum air putih setelah olahraga berat. Tegukan pertama
akan terasa begitu nikmat, tegukan kedua masih terasa nikmat, tapi tegukan kelima
dan keenam mungkin kita akan merasa biasa saja dan saat itu kita tau kita
merasa cukup dan harus berhenti. Ketika kita paksakan untuk terus menerima air, kita
malah merasa kembung alih-alih makin nikmat.
Mari kita lihat
realita. Sebagaimana kita tau, sekarang acara televisi tayang setiap hari.
Istilahnya stripping, begitu katanya.
Kita tidak perlu menanti lama untuk episode berikutnya, agar pemirsa selalu
terpuaskan dalihnya. Apa betul? Padahal menurut saya, dalam menunggu itu ada sebuah
kesabaran yang kita latih, ada ekspektasi yang kita bentuk, ada greget yang kita tumpuk, ada kerinduan
yang kita pupuk. Sehingga eskalasi itu semua dapat menjadi klimaks dan
kepuasan tersendiri ketika menonton acara tersebut. Kemudian siklus itu akan kembali
berulang ketika acara berakhir dan kita harus menunggu selama seminggu
misalnya. Maka kenikmatan akan tejaga.
Juga dalam hal
menuntut ilmu. Bayangkan seorang pelajar/mahasiswa. Pagi hari belajar di
sekolah/kampus sampai siang terkadang sore. Kemudian pulang sekolah/kuliah
belajar lagi di tempat les. Malam sampai dirumah belajar lagi karena ada tugas
dari sekolah/kampus. Itulah nasib sebagian besar pelajar/mahasiswa di Negara kita.
Kemudian ada pertanyaan yang selalu mencuat di pikiran saya.
Apa dengan
begitu pelajar/mahasiswa akan makin cinta dengan ilmu pengetahuan? Atau malah
akan menjauh dari ilmu pengetahuan karena ia sungguh membebani?
Entah mungkin
ada beberapa orang yang menyukai metode-metode seperti itu. Holic. Namun bagi saya, cara seperti itu
tidak akan membuat saya suka pada ilmu. Perlu waktu bagi saya untuk bermain,
bersosialisasi, bersantai, dan melihat bagaimana ilmu tersebut bekerja di
kehidupan nyata hingga menimbulkan rasa penasaran, sampai akhirnya kembali
mempelajari ilmu tersebut lebih dalam. Menjaga keseimbangan, karena segala
sesuatu ada porsinya. Satu hal yang berlebih hanya akan mengorbankan hal
lainnya, yang terkadang hanya dapat disesali kelak.
Maka lakukanlah
sesuatu secara wajar. Tidak perlu berlebih. Begitupun seperti tulisan ini, semakin
diteruskan rasanya mungkin akan semakin malas anda membacanya.
Ah, akhirnya
saya menemukan pembenaran untuk tidak terlalu rajin menulis.