Jumat, 13 November 2015

Perlukah Berlebihan?

Waktu dengan cepat berlalu, jauh lebih cepat dari penanganan kebakaran hutan di sejumlah wilayah di Indonesia. Beberapa bulan yang lalu saya menulis dalam kehebohan rentetan tugas dan ujian perkuliahan Apoteker. Kini, saya menulis dalam vakum tekanan di awal masa perkuliahan S2. Kalau dulu saya ngos-ngosan seperti dikejar serigala lapar, kini saya merasa seperti sedang jalan-jalan sore dengan seekor siput. Melaju terlalu lambat dan terlalu tenang. Tanpa disadari orang-orang sudah jauh berlari menyusul dan meninggalkan saya. Ternyata memang betul, waktu luang adalah salah satu sumber kelalaian bagi yang tidak mampu mengambil manfaat.
Malam yang dingin, rintik air yang turun secara berjamaah berduet dengan lantunan musik ngak ngik ngok begitu khidmat memanjakan telinga. Alhamdulillah, akhirnya musim hujan tiba. Menandakan juga kembalinya aroma tanah basah setelah hujan yang dirindukan selama bulan-bulan penuh peluh siang malam. Musim kemarau kali ini memang cukup panjang. Dan selama kemarau yang panjang ini pula banyak hal yang sudah berubah dalam dunia perkuliahan di farmasi. Mahasiswa sudah jadi sarjana. Sarjana sudah jadi calon Apoteker. Calon Apoteker sudah jadi Apoteker. Apoteker kembali lagi jadi mahasiswa. Ya, itu semua terjadi selama musim kemarau.  Yang muda sudah jadi tua. Yang tua mana mungkin jadi muda. Terima saja.
Sebetulnya, ada pelajaran yang dapat kita ambil dari fenomena cuaca yang terjadi. Lihat, hujan yang sering dicaci ketika turun terus menerus karena menyebabkan banjir, kini begitu dinanti-nanti kedatangannya. Begitu dirindukan, begitu diharapkan kehadirannya. Pun sebaliknya, ketika hujan sedang turun terus menerus, kita begitu merindukan hangatnya sengatan sang surya.

Apa artinya?

Kita tidak bisa menerima sesuatu yang sama secara berulang-ulang dan terus menerus. Contoh sederhana, ketika kita minum air putih setelah olahraga berat. Tegukan pertama akan terasa begitu nikmat, tegukan kedua masih terasa nikmat, tapi tegukan kelima dan keenam mungkin kita akan merasa biasa saja dan saat itu kita tau kita merasa cukup dan harus berhenti. Ketika kita paksakan untuk terus menerima air, kita malah merasa kembung alih-alih makin nikmat.
Mari kita lihat realita. Sebagaimana kita tau, sekarang acara televisi tayang setiap hari. Istilahnya stripping, begitu katanya. Kita tidak perlu menanti lama untuk episode berikutnya, agar pemirsa selalu terpuaskan dalihnya. Apa betul? Padahal menurut saya, dalam menunggu itu ada sebuah kesabaran yang kita latih, ada ekspektasi yang kita bentuk, ada greget yang kita tumpuk, ada kerinduan yang kita pupuk. Sehingga eskalasi itu semua dapat menjadi klimaks dan kepuasan tersendiri ketika menonton acara tersebut. Kemudian siklus itu akan kembali berulang ketika acara berakhir dan kita harus menunggu selama seminggu misalnya. Maka kenikmatan akan tejaga.
Juga dalam hal menuntut ilmu. Bayangkan seorang pelajar/mahasiswa. Pagi hari belajar di sekolah/kampus sampai siang terkadang sore. Kemudian pulang sekolah/kuliah belajar lagi di tempat les. Malam sampai dirumah belajar lagi karena ada tugas dari sekolah/kampus. Itulah nasib sebagian besar pelajar/mahasiswa di Negara kita. Kemudian ada pertanyaan yang selalu mencuat di pikiran saya.

Apa dengan begitu pelajar/mahasiswa akan makin cinta dengan ilmu pengetahuan? Atau malah akan menjauh dari ilmu pengetahuan karena ia sungguh membebani?

Entah mungkin ada beberapa orang yang menyukai metode-metode seperti itu. Holic. Namun bagi saya, cara seperti itu tidak akan membuat saya suka pada ilmu. Perlu waktu bagi saya untuk bermain, bersosialisasi, bersantai, dan melihat bagaimana ilmu tersebut bekerja di kehidupan nyata hingga menimbulkan rasa penasaran, sampai akhirnya kembali mempelajari ilmu tersebut lebih dalam. Menjaga keseimbangan, karena segala sesuatu ada porsinya. Satu hal yang berlebih hanya akan mengorbankan hal lainnya, yang terkadang hanya dapat disesali kelak.

Maka lakukanlah sesuatu secara wajar. Tidak perlu berlebih. Begitupun seperti tulisan ini, semakin diteruskan rasanya mungkin akan semakin malas anda membacanya.

Ah, akhirnya saya menemukan pembenaran untuk tidak terlalu rajin menulis.

Rabu, 09 September 2015

Centong Sangu : Dreamception


Centong Sangu : Cerita Pendek, Terpotong-potong, dan Terkesan Dungu, merupakan cerita/tulisan selingan tidak bermutu tanpa inti, tanpa pesan moral, dan asal jadi. Karena menulis dan membaca tidak harus selalu mencerdaskan. Kekecewaan merupakan tanggungan pembaca.

Pagi hari yang tenang dan dingin, tampak burung yang tegak berdiri menantang, di atas kabel listrik. Harmoni yang tercipta dari paduan suara knalpot vespa serta tukang tahu yang lewat rupanya sanggup menyadarkannya dari lelap. Kelopak mata atas dan bawah yang tadinya sedang asyik bercumbu akhirnya harus berpisah. Hadirlah sepasang bola mata yang terlihat merah dengan lingkar hitam di tengahnya.

”Hmeeehhh. Hhaaaahh hmmeehh hmmeeh”

Bahasa orang yang sedang lulungu (kondisi setengah sadar ketika berusaha mengumpulkan nyawa saat bangun tidur) memang begitu. Dia menggumam diantara panik dan tunduhnya. Beberapa detik kemudian, terdengar suara gonjrang ganjreng yang memekikkan telinga. Oh! Ternyata suara alarm dengan suara musik metal dari handphone. Sambil gosok-gosok mata dia matikan alarm dan mencoba mencerna dan memahami. Jam berapakah ini?

07.45 ante meridiem.

Mendadak ia loncat dan mengambil pakaian kuliah dan bergegas mandi dengan terburu-buru. Saking terburu-burunya ia lupa melepas baju saat mandi. Mandi gesit cukup 5 menit yang penting pakai sabun dan basah. Ya, dia terburu-buru karena hari ini memang jadwal kuliah salah satu dosen yang terbukti killer secara empirik. Dan kuliahnya jam 8. Jarak antara rumahnya dan kampus kurang lebih 18,45 KM. Sehingga, jika dia ingin mencapai kampus dalam waktu 10 menit saja, dia harus melaju di jalanan dengan kecepatan rata-rata 110 km/jam.

Dia berpikir keras selama 10 menit. Tidak akan ada kesempatan baginya untuk tidak terlambat kuliah, karena saat dia selesai berpikir keras jam sudah menunjukkan pukul 08.00. Tampak sia-sia dan mengecewakan. Dia butuh doraemon dan segala alat ajaibnya. Sayang, dia dan doraemon hidup di dimensi yang berbeda. Akhirnya  dia menyadari, tidak ada yang dia bisa lakukan agar tidak terlambat.

Akhirnya dia memilih berdamai dengan waktu dan probabilitas, karena tak mungkin dia melawannya. Maka ia memutuskan kembali tidur saja menenangkan pikiran serta menghilangkan masalahnya.

JRENG!

Dia kembali terbangun. Kali ini dia bingung, karena terdengar suara ribut di sekelilingnya. Telinganya masih belum bisa mencerna karena belum tune in. Sampai akhirnya terdengar suara “cuy itu dipanggil sama dosen daritadi”.

Kalem, kalem. Apa ini. Apa itu. Oh! Akhirnya dia sadar sedang berada di kelas Herbal Medisin. Rupanya terbangun karena telat ke kampus itu hanya mimpi yang terbawa-bawa dari kehidupan sehari-hari! Akhirnya untuk menutupi malu yang tidak mungkin tertutupi, dia menjatuhkan handphone serta buku dari mejanya seraya menundukkan badan untuk mengambil handphone dan buku tersebut. Dia berasumsi dengan strategi seperti ini, setidaknya ketika dosen memanggil dia yang ke sekian kalinya dia bisa meminta maaf dan beralasan tadi sedang ke kolong meja untuk mengambil barang yang jatuh dan agak susah sehingga tidak terdengar.

Eureka!! Brilian.

Rupanya rencana tak berjalan semulus marmer Italy. Dosen tersebut sudah mengetahui bahwa ia sedari tadi tidur dan menyuruh teman sebelahnya untuk membangunkannya. Dengan begitu tentu saja rasa malu yang hebat tidak bisa dihindarkan. Mau apa lagi. Dalam hal ini, hukum ”nothing is impossible” gugur karena ternyata “something is impossible”. Ya sudah, mau apa lagi. Dia terima saja sindiran dosen yang disertai tawa orgasmic rekan-rekannya. Secara gentle.
Diiringi gelak tawa, setidaknya dia masih berusaha menyalakan harapan meskipun setitik saja.

“Ah semoga ini juga cuma mimpi”


To be discontinued

Minggu, 29 Maret 2015

Ironi




Menikmati malam dengan secangkir kopi, entah siapa yang pertama kali menemukan metode ini. Kopi kental, cukup nikmat. Sembari menerawang dan melayangkan pemikiran-pemikiran menjelang pergantian hari menurut kalender syamsiah. Sebenarnya saya ini tidak benar-benar menghayati metode menikmati malam dengan secangkir kopi ini, tapi setidaknya itulah kebiasaan para pendahulu yang saya amati dan coba saya ikuti, sebagai generasi penerus.
Ditengah segala ke-riweuh-an praktek kerja dan tekanan tinggi akibat laporan yang tak kunjung melegakan, akhirnya saya meluangkan waktu kembali untuk santai sejenak dan membuat tulisan yang sesungguhnya tidak penting-penting amat bagi pembacanya. Sekedar menuangkan dan meluangkan sedikit isi kepala supaya kepala tidak terlalu pagujud.

Begini. Pernahkah anda menemukan suatu ironi di sekitar anda?

Ironi. Suatu pertentangan atas harapan. Sesuatu yang tidak seharusnya dan sesuatu yang berlawanan namun sudah menjadi takdir. Ironi adalah bagian dari kehidupan. Seorang dokter harus berobat karena sakit, seorang penghibur yang justru depresi, penegak hukum yang melanggar hukum, semua terjadi dalam kehidupan. Ironi yang terkini adalah, ketika berkumpul bersama teman-teman, tampak seru di update-an media sosial namun pada kenyataannya sepi karena masing-masing bukan asyik mengobrol atau melempar humor dengan teman yang ada di depan mata tapi asyik dibuat nyengir oleh teman maya yang sebenarnya entah ada dimana.
Mungkin manusia memang gemar membuat suatu ironi. Lihatlah beberapa manusia yang ingin menikmati keindahan alam dengan merusak alam. Lihat villa-villa dan perumahan yang berada di daerah pegunungan yang menawarkan panorama indah, udara sejuk, dan eksotisme alam kemudian dibanderol dengan harga mahal. Berapa luas alam yang dirusak dan dampak yang harus ditanggung untuk kita dapat menikmati keindahan alam? Logika “merusak alam untuk menikmati keindahan alam” sungguh tidak dapat diterima bagi manusia yang sadar. Kemudian ironi ini memunculkan ironi lainnya. Berapa banyak daerah dengan curah hujan tinggi tapi kesulitan air?
Mungkin juga manusia tak sadar bahwa ia sedang membuat suatu ironi. Kadang ketika kita merasa paling hebat, pada saat itulah sebenarnya kita memperlihatkan kelemahan kita. Ketika kita merasa paling benar, saat itulah kita melakukan kesalahan. Saat kita merasa paling pintar, saat itulah kita sedang melakukan kebodohan. Saat kita merasa paling berpikir, justru disitu kita sedang tidak memikirkan perasaan orang. Ironi yang paling berat bagi saya pribadi adalah ketika melihat orang yang merasa dirinya sudah sangat berilmu, besar, dan berpengaruh kemudian meragukan, mengecilkan, dan mengesampingkan peran Tuhan. Bagaimana bisa dengan ilmu kita yang hanya ibarat setetes air dari lautan tak berbatas dari ilmu milik Tuhan bisa menyombongkan diri?
Pada akhirnya, mata pula yang menyudahi tulisan ini. Kantuk memang bukan untuk dilawan, tapi dinikmati hingga terbuai lelapnya tidur. Setidaknya, dari ironi kita bisa belajar bahwa makna yang sesungguhnya bisa jadi bertentangan dengan apa yang kita nyatakan.

 Kita semua memang manusia yang tak terlepas dari ironi.