Setelah satu tahun berlalu,
rasanya sudah saatnya untuk kembali untuk menebar manfaat dan mudharat
sekaligus lewat suatu artikel. Senang sekali rasanya bisa menyapa anda-anda
sekalian disini, kawan-kawan pembaca sekalian, yang sedang berbahagia maupun tidak,
yang waras maupun tidak, yang sedang sibuk maupun kurang kerjaan
sampai bisa baca blog ini. Meskipun saya sangsi, memang blog ini masih ada
pembacanya ya?
Ya, 383 hari sudah semenjak saya
curhat melalui prolog dalam tulisan terakhir dikala saya berada di persimpangan
jalan untuk memilih jalur kehidupan. Dan ternyata, skenario Tuhan memang tidak
pernah bisa kita prediksi. Siapa sangka, akhirnya sekarang saya jadi dosen di
tempat saya berkuliah dulu. Wong saya aja nggak nyangka. Ternyata saya pulang
ke Jatinangor. Si tukang sare jeung
ngaret ayeuna jadi dosen. Tapi nggak juga, saya sebetulnya selalu duduk
paling depan, senantiasa terjaga, memperhatikan, dan sigap…. saat nyetir motor.
Begitulah, aneh tapi nyata. Tapi hidup memang jauh lebih indah dari FTV. And I really enjoy this.
Saya menulis artikel ini sore
hari di kampus saat hujan turun. Sebetulnya bukan karena suasananya indie banget, senja & hujan (sayang
minus kopi), kemudian inspirasi jadi berdatangan. Tapi memang karena saya gak
bawa jas hujan jadi gak bisa pulang dan saya ujug-ujug kepingin nulis. Yasudah.
Kawan-kawan pembaca yang saya
banggakan, pernahkah anda mengerjakan sesuatu secara asal-asalan?
Entah mengapa, tiba-tiba saya
ingin membahas perkara tersebut. Rasanya terlalu banyak hal-hal sepele yang
biasa kita kerjakan sehari-hari maupun suatu proyek besar dikerjakan secara
asal-asalan. Yang penting asal beres dulu, kualitas nomor sekian.
Apa ini budaya kita?
Mungkin terlalu dini untuk menyimpulkan
hal tersebut. Pasti banyak faktor yang membuat kita akhirnya “terpaksa” harus
mengerjakan sesuatu secara asal. Menurut saya, ada 3 alasan utama mengapa ini
bisa terjadi. Mari kita coba cermati dan sadari bersama.
Mengerjakan sesuatu diluar kompetensinya. Ini bisa jadi suatu
alasan utama mengapa banyak pekerjaan yang terkesan dilakukan secara asal.
Suatu pekerjaan, apapun itu, akan selesai dengan baik apabila dikerjakan oleh
seseorang yang memiliki kompetensi disitu. Contoh kasus, misalkan seorang
Dokter gigi ketika harus menambal gigi, tentu dapat menyelesaikan pekerjaannya
secara baik. Tapi bagaimana dokter gigi disuruh tambal ban bocor? tambal
genteng bocor? Wajar jika hasil pekerjaannya kurang baik dan dinilai
asal-asalan. Ya karena memang bukan itu kompetensinya. Celakanya, contoh
kasus tadi seringkali terjadi di kehidupan sehari-hari. Banyak
orang yang harus/terpaksa/dipaksa mengerjakan sesuatu diluar kompetensinya.
Hasilnya? Ya begitu, bisa selesai aja sudah syukur, boro-boro mengharap hasil bagus.
Tenggat waktu yang tidak realistis. Deadline yg keblinger.
Pekerjaan normal butuh waktu 3 hari, dipaksa selesai dalam waktu 5 jam. Itu
keblinger. Sesat. Keliru. Ini adalah awal mula pekerjaan akhirnya diselesaikan
secara asal-asal. Bekerja cepat itu memang harus dan bagus, tapi bukan berarti
semua pekerjaan bisa dilakukan dengan serba cepat dan mendadak. Belajarlah dari
kisah Roro Jonggrang yang minta ke Bandung Bondowoso untuk dibuatkan 1000 candi
dalam semalam. Bandung Bondowoso memang bisa membuat sampai 999 candi, tapi
dibantu sama jin, setan, dedemit. Apa
perlu begitu? Atau belajar dari kisah Sangkuriang yang diminta oleh Dayang
Sumbi untuk dibuatkan telaga dan perahu dalam waktu semalam. Sangkuriang hampir
menyelesaikan pekerjaannya dibantu para makhluk halus dan tetap gagal. Akhirnya
apa? emosi bisa membuncah. Karena kesal perahu ditendang sampai kebalik,
kebayang kan kesalnya kayak apa? Sampai bisa jadi gunung Tangkuban Perahu. Jadi
meskipun anda sudah bekerja sebaik mungkin sampai harus dibantu makhluk halus dan hampir
menyelesaikan pekerjaan tersebut, jika anda tidak selesai sesuai dengan tenggat
waktu maka anda akan dianggap gagal. Itulah, unofficial moral of those stories versi artikel ini.
Rakus dalam pekerjaan. Terkadang, ada orang yang memang ingin
mengerjakan segala sesuatunya oleh sendiri. Niatnya bisa jadi baik, tapi saya
pribadi lebih berpandangan bahwa dalam mengerjakan sesuatu lebih baik fokus daripada rakus. Mengerjakan satu pekerjaan dengan fokus dan sungguh-sungguh
sampai tuntas, maka akan menghasilkan suatu hasil kerja yang berkualitas.
Sayangnya, banyak orang lebih memilih rakus dalam bekerja, dan saya orang yang
yakin bahwa manusia tidak bisa fokus pada dua hal yang berbeda, apalagi lebih. Multitasking? Pikir lagi. Multitasking
hanya akan menambah bahkan membuang-buang waktu dalam bekerja dan bisa jadi
hasilnya ”asal jadi”. Silakan pembaca sekalian amati hasil kerja orang-orang
yang fokus pada suatu bidang atau suatu pekerjaan, dengan orang yang sagala digawean.
Mungkin ada banyak faktor lain
yang menyebabkan kenapa orang mengerjakan sesuatu secara asal-asalan yang seharusnya dibahas di artikel ini, tapi
karena waktu jualah kita harus berhenti sampai disini. Dan mumpung hujan sudah
reda, saatnya untuk pulang karena jika diteruskan saya bisa dikunci satpam di lab.
Bagi anda pembaca yang mungkin tersinggung akibat konten
artikel ini, ya bagus. Saya sendiri tersinggung. Mudah-mudahan kita yang
tersinggung ini bisa berubah, sehingga tidak lagi mengerjakan sesuatu secara
asal-asalan.
Sekian, saya akhiri opini asal-asalan ini. Sampai jumpa lagi di lain kesempatan!