Centong Sangu : Cerita Pendek, Terpotong-potong, dan Terkesan Dungu, merupakan cerita/tulisan selingan tidak bermutu tanpa inti, tanpa pesan moral, dan asal jadi. Karena menulis dan membaca tidak harus selalu mencerdaskan. Kekecewaan merupakan tanggungan pembaca.
Pagi hari yang tenang dan dingin,
tampak burung yang tegak berdiri menantang, di atas kabel listrik. Harmoni
yang tercipta dari paduan suara knalpot vespa serta tukang tahu yang lewat
rupanya sanggup menyadarkannya dari lelap. Kelopak mata atas dan bawah yang
tadinya sedang asyik bercumbu akhirnya harus berpisah. Hadirlah sepasang bola
mata yang terlihat merah dengan lingkar hitam di tengahnya.
”Hmeeehhh. Hhaaaahh hmmeehh
hmmeeh”
Bahasa orang yang sedang lulungu (kondisi setengah sadar ketika
berusaha mengumpulkan nyawa saat bangun tidur) memang begitu. Dia menggumam
diantara panik dan tunduhnya.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara gonjrang
ganjreng yang memekikkan telinga. Oh! Ternyata suara alarm dengan suara musik
metal dari handphone. Sambil
gosok-gosok mata dia matikan alarm dan mencoba mencerna dan memahami. Jam
berapakah ini?
07.45 ante meridiem.
Mendadak ia loncat dan mengambil
pakaian kuliah dan bergegas mandi dengan terburu-buru. Saking terburu-burunya
ia lupa melepas baju saat mandi. Mandi gesit cukup 5 menit yang penting pakai
sabun dan basah. Ya, dia terburu-buru karena hari ini memang jadwal kuliah
salah satu dosen yang terbukti killer
secara empirik. Dan kuliahnya jam 8. Jarak antara rumahnya dan kampus kurang
lebih 18,45 KM. Sehingga, jika dia ingin mencapai kampus dalam waktu 10 menit
saja, dia harus melaju di jalanan dengan kecepatan rata-rata 110 km/jam.
Dia berpikir keras selama 10
menit. Tidak akan ada kesempatan baginya untuk tidak terlambat kuliah, karena saat
dia selesai berpikir keras jam sudah menunjukkan pukul 08.00. Tampak sia-sia
dan mengecewakan. Dia butuh doraemon dan segala alat ajaibnya. Sayang, dia dan
doraemon hidup di dimensi yang berbeda. Akhirnya dia menyadari, tidak ada yang dia bisa
lakukan agar tidak terlambat.
Akhirnya dia memilih berdamai
dengan waktu dan probabilitas, karena tak mungkin dia melawannya. Maka ia
memutuskan kembali tidur saja menenangkan pikiran serta menghilangkan
masalahnya.
JRENG!
Dia kembali terbangun. Kali ini
dia bingung, karena terdengar suara ribut di sekelilingnya. Telinganya masih
belum bisa mencerna karena belum tune in.
Sampai akhirnya terdengar suara “cuy
itu dipanggil sama dosen daritadi”.
Kalem, kalem. Apa ini. Apa itu.
Oh! Akhirnya dia sadar sedang berada di kelas Herbal Medisin. Rupanya terbangun
karena telat ke kampus itu hanya mimpi yang terbawa-bawa dari kehidupan
sehari-hari! Akhirnya untuk menutupi malu yang tidak mungkin tertutupi, dia
menjatuhkan handphone serta buku dari
mejanya seraya menundukkan badan untuk mengambil handphone dan buku tersebut. Dia berasumsi dengan strategi seperti
ini, setidaknya ketika dosen memanggil dia yang ke sekian kalinya dia bisa meminta
maaf dan beralasan tadi sedang ke kolong meja untuk mengambil barang yang jatuh
dan agak susah sehingga tidak terdengar.
Eureka!! Brilian.
Rupanya rencana tak berjalan semulus
marmer Italy. Dosen tersebut sudah
mengetahui bahwa ia sedari tadi tidur dan menyuruh teman sebelahnya untuk
membangunkannya. Dengan begitu tentu saja rasa malu yang hebat tidak bisa
dihindarkan. Mau apa lagi. Dalam hal ini, hukum ”nothing is impossible” gugur karena ternyata “something is impossible”. Ya sudah, mau apa lagi. Dia terima saja sindiran
dosen yang disertai tawa orgasmic
rekan-rekannya. Secara gentle.
Diiringi gelak tawa, setidaknya
dia masih berusaha menyalakan harapan meskipun setitik saja.
“Ah semoga ini juga cuma mimpi”
To be discontinued…