Kamis, 25 September 2014

Lamunan Masa Kini


Serunya gempuran tugas sebagai mahasiswa profesi sekarang ini terkadang menghadirkan stress yang kerap melanda, terutama saat deadline hampir tiba. Rasanya memang seperti dikejar ratusan serigala lapar yang berlari mengejar dengan status full speed. Ngos-ngosan. Tapi ada satu hal sederhana yang selalu membuat saya dapat mengatasi tekanan tersebut. 

Melamun.
Ya, saat melamun saya merasakan seperti dalam keadaan slow motion. Seolah ratusan serigala lapar yang mengejar saya dengan kecepatan penuh sekarang hanya sedang jogging ringan saja. Cari keringat.  Santai. Kemudian lamunan tersebut membawa saya berpikir, atau lebih tepatnya menerawang, tentang berbagai hal yang tidak ada hubungannya dengan tugas sama sekali. Dan seperti sebelum-sebelumnya, lamunan tersebut akan saya tuangkan dalam tulisan amatir ini. Lamunan ini bukan lamunan hampa tak bermakna. Lamunan ini bukan sekedar imaji.  Tapi ini adalah lamunan masa kini.
Jadi begini, lamunan saya adalah mengenai masa depan. Saya tidak akan membahas mengenai masa depan saya sendiri, bukan itu poinnya. Saya coba membahas dari sisi yang lain.

Haruskah kita mengorbankan masa kini demi masa depan?
Masa depan. Masa yang berada di depan. Suatu keadaan yang akan terjadi di kemudian waktu. Tahun depan  adalah masa depan bagi tahun ini. Esok hari adalah masa depan bagi hari ini. Dan masa kini adalah masa depan bagi masa lalu.
Saya yakin sebagian besar dari kita adalah yang percaya bahwa masa depan ataupun cita-cita harus kita letakkan setinggi langit. Sejak saat itu juga kita mulai berlari secepat mungkin, karena kita tidak pernah tau sebenarnya di langit yang seberapa jauhkah telah kita letakkan masa depan tersebut. Masa depan dapat saja terjadi sesuai keinginan kita, tapi bisa juga tidak seperti yang diharapkan. Manis atau pahit, semua tetap akan terjadi.
Apa yang akan kita capai di masa depan, ditentukan oleh apa yang kita lakukan di masa kini. Saya percaya sekali prinsip ini, dan sepertinya semua pun begitu. Namun saya sering mengamati, banyak sekali orang-orang yang sibuk sekali memikirkan dan terlalu terobsesi dengan masa depannya yang diinginkan hingga lupa menikmati masa kini. Sepertinya jiwanya ingin berlari lebih kencang meninggalkan jasadnya. Terkadang melupakan pentingnya langkah-langkah kecil saat ini untuk sampai di tujuan.
Mengorbankan kebahagiaan masa kini demi kebahagiaan masa depan, begitu katanya. Saya sebetulnya tidak sependapat dengan pemikiran tersebut. Masa depan itu tidak berlimit. Setelah masa depan akan ada masa depan lagi dan terus tak akan pernah berhenti. Sekalipun kita mati, masih ada afterlife. Selama waktu tak terhenti, maka akan selalu ada masa depan. Dan waktu adalah rahasia Sang Pencipta. Tidak  ada yang dapat mengatakan “ini adalah masa depan” karena pasti masih ada masa depan setelah masa depan. Jadi bagaimana mungkin saya akan mengorbankan masa kini dan seterusnya untuk mencapai kebahagiaan di masa depan? Berapa banyak kebahagiaan yang seharusnya dapat saya rasakan? Maka saya memilih untuk menikmati masa kini sebagai jalan menuju kebahagiaan yang saya impikan di masa depan, yang entah dimana akan bermuaranya.
Cukup sudah lamunan tersebut mengalihkan saya. Singkat, padat, dan mungkin tidak jelas. Mari kembali menikmati sensasi lemah letih lesu dikejar deadline. Lamunan ini memang masa kini saat saya menuliskannya. Tapi sebenarnya lamunan ini juga adalah lamunan masa depan sebelum saya mulai menuliskannya, dan akan jadi lamunan masa lalu ketika anda membacanya.  

Jumat, 27 Juni 2014

Ace & Jack



Di tulisan ini saya akan sedikit memberikan pandangan saya tentang 2 peran manusia, yaitu Ace in One Position dan Jack in All Position.
 
Pertama, Ace in One Position. Dalam permainan kartu, as merupakan kartu yang terkuat untuk memenangkan sebuah permainan. Ini adalah gambaran dari seseorang yang  ahli dalam suatu bidang. Seseorang yang memiliki pengetahuan yang lebih dibanding orang lain dalam suatu bidang.

Kedua, Jack in All Position. Dalam permainan kartu, jack merupakan kartu yang tidak lemah tapi juga tidak cukup kuat untuk memenangkan suatu permainan. Ini adalah gambaran dari seseorang yang cukup memahami banyak bidang, namun tidak ada satu bidang yang benar-benar dikuasainya.

Lalu bagaimana kedua peran ini bekerja?

Seorang Ace in One Position adalah seorang yang bisa menjamin keberhasilan. Sesuatu rencana akan berjalan dengan baik jika ada seorang ahli. Seorang yang mengetahui seluk beluk suatu bidang dengan segudang permasalahan dan solusinya. Seorang yang akan membuat kita yakin bahwa apa yang kita lakukan adalah benar. Maka ketika suatu kelompok berisi orang – orang yang ahli dalam suatu bidang akan memberi peluang keberhasilan yang lebih besar. Misalkan, dalam suatu tim kesehatan terdapat dokter, apoteker, dan perawat. Dokter akan menjalankan perannya sebagai ahli diagnosis, apoteker menjalankan perannya sebagai ahli obat dan penggunaannya, perawat menjalankan perannya sebagai ahli dalam perawatan pasien selama terapi. Dengan kinerja para Ace in One Position ini, keberhasilan terapi pada pasien peluangnya akan jauh lebih besar karena keterlibatan para ahli dalam prosesnya.

Berikutnya, seorang Jack in All Position. Peran ini tidak akan cukup kuat untuk membawa suatu kesuksesan, namun dapat menjaga sesuatu dari kegagalan dan kehancuran total. Seorang Jack in All Position adalah seorang yang versatile, dapat bekerja di berbagai posisi. Jika pada suatu kondisi tidak ada seorang Ace in One Position, maka kebolongan tersebut dapat ditambal oleh seorang Jack in All Position. Ini menghindarkan terjadinya kegagalan yang mungkin terjadi akibat ketiadaan seorang ahli yang membuat sesuatu menjadi timpang. Memang, peran ini tidak akan menjamin tercapainya suatu kesuksesan. Tapi inilah peran penyeimbang yang menjaga agar tidak terjadi sebuah kegagalan.

Jika kita ambil contoh dalam sepakbola, setiap posisi diisi oleh pemain yang memang kompeten. Di posisi defender, diisi oleh pemain yang pandai bertahan. Di posisi striker, diisi oleh pemain yang mahir dalam mencetak gol. Setiap posisi diisi oleh orang yang kompeten maka akan membuat tim tersebut kuat dan peluang untuk mencapai keberhasilan lebih besar. Inilah para Ace in One Position tersebut Tapi apa yang akan terjadi jika ternyata defender tim tersebut tidak dapat bermain karena cedera dan tidak ada cadangannya? Jika kekosongan tersebut tidak ditambal akan berbahaya karena posisi tersebut vital dan dapat berakibat kekalahan jika posisi tersebut tetap kosong. Disinilah peran seorang Jack in All Position. Posisi tersebut dapat diisi oleh seorang yang dapat bermain di berbagai posisi, meskipun ia bukanlah orang yang terkuat. Ini akan menjaga tim tersebut dari kekalahan akibat tidak adanya Ace dalam suatu posisi. Begitulah kira-kira kedua peran ini bekerja bersama menjaga suatu keseimbangan.
Maka dapat kita tarik garis besar, bahwa keduanya memegang peranan yang sama penting. Namun memang kita sering menilai seorang Ace in One Position lah yang akan selalu mendapat sanjungan sekaligus cercaan karena kinerjanya akan lebih terlihat. Ketika sesuatu berhasil, maka ia akan mendapat pujian. Tapi ketika sesuatu tidak berhasil, bukan tidak mungkin ia akan mendapat cercaan. Sementara seorang Jack in All Position akan jarang mendapat sorotan karena tugas seorang Jack in All Position yang utama adalah tidak terjadinya kegagalan, dimana jarang sekali yang akan menilai hal tersebut.

Itulah mengapa kedua peran ini sama pentingnya. Kita harus mencapai keberhasilan, tapi kita juga harus menghindari terjadinya kegagalan agar tetap stabil dan bertahan. Apapun peran yang masing-masing kita mainkan, harus kita jalankan secara optimal. Baik sebagai Ace in One Position yang dapat memberikan kemenangan maupun sebagai Jack in All Position yang dapat menjaga agar tidak terbunuh

Senin, 12 Mei 2014

Miskin dan Bermental Miskin



Cukup mengkhawatirkan ketika kita menyaksikan sendiri bahwa jutaan saudara kita di Negara ini masih hidup dibawah garis kemiskinan. Tak pelak, terkadang kita mudah saja berbicara bahwa “Pemerintah gagal”. Tentu kita akan sangat mudah berbicara seperti itu, dan melimpahkan semua kesalahan pada satu pihak. Karena kita merasa tidak terlibat dalam kenyataan ini. Tapi kita tidak bicara bagaimana seharusnya pemerintah memerangi kemiskinan bla bla bla. Saya hanya ingin berbagi pandangan.
Ada satu hal yang patut dipertanyakan, apa betul dari jutaan warga miskin itu betul-betul miskin? Atau sebagiannya bermental miskin?
Terdapat perbedaan yang kentara antara miskin dengan bermental miskin. Miskin adalah kondisi hidup manusia yang sulit untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam hidupnya. Sementara bermental miskin adalah kondisi psikologis, dimana seseorang selalu merasa tidak berkecukupan dan mengharap belas kasih dari orang lain untuk membantu memenuhi kebutuhannya. Entah kebutuhan pokok, ataupun hanya kebutuhan sekunder maupun tersier. Paling tidak, ada 3 hal yang berhubungan dengan miskin dan bermental miskin yang perlu kita cermati.
Orang miskin belum tentu bermental miskin. Pada realitanya, banyak orang miskin yang enggan berpangku tangan dan menunggu belas kasihan dari orang lain. Mereka memilih bekerja dan berusaha, sebagai cara terhormat untuk lepas dari kemiskinannya. Tak jarang, mereka harus memeras keringat berkali lipat, tidur lebih singkat, berhadapan dengan maut lebih dekat, dan mengambil resiko yang lebih berat. Tentu dilandasi dengan kejujuran. Inilah orang miskin yang tidak bermental miskin, mereka bekerja untuk mengubah nasibnya. Dan tentu memiliki keyakinan bahwa Tuhan tak akan mengubah nasibnya kecuali ia sendiri yang berusaha mengubahnya, sebagaimana sudah dijelaskan dalam Q.S Ar-Ra’d Ayat 11.
Orang yang bermental miskin bisa jadi memang orang miskin. Mari kita cermati. Memang, banyak juga orang miskin yang bermental miskin. Hanya memangku tangan menunggu lembaran demi lembaran rupiah berpindah padanya. Mudah saja kita temui orang-orang yang menjadikan mengemis sebagai profesi karena hasil dari mengemis jauh lebih besar dibanding bekerja, dengan usaha yang lebih sedikit tentunya. Ada yang  menyuruh anaknya mengemis di perempatan jalan untuk mendapatkan uang, sementara sang orang tua bersantai di tempat yang teduh. Ada juga yang menyatakan diri miskin agar dapat menerima  BLT atau Raskin, padahal mampu membeli beras. Ya, mereka mungkin memang betul orang miskin dan mereka juga bermental miskin.
Orang yang bermental miskin bisa jadi bukan orang miskin. Ini fenomena yang saya amati belakangan sedang terjadi. Tidak sedikit orang-orang yang sesungguhnya sudah berkecukupan, tapi merasa tidak punya apa-apa. Bukan rendah hati, tapi tidak bersyukur. Kita ambil contoh gampang, maksudnya kurang lebih seperti ini. Di era hi-tech  ini, perkembangan teknologi begitu pesat. Gadget adalah salah satu produk dari era teknologi canggih ini. Banyak orang yang tidak ingin ketinggalan segala tren gadget ini. Dan ketika mereka tidak bisa memiliki apa yang sedang menjadi tren dan mereka inginkan tersebut, kemudian mereka merasa tidak memiliki apa-apa. Lupa bersyukur atas gadget-gadget yang telah mereka miliki sebelumnya. Lupa bahwa tidak semua orang bisa menikmati mutakhirnya gadget dan menganggap gadget adalah suatu kebutuhan primer, setara sandang, pangan, dan papan padahal bukan. Kemudian mereka meminta untuk dibelikan gadget terbaru tersebut pada orang tuanya, misalkan, tanpa memikirkan kondisi keuangan orangtuanya. Ini yang saya maksud dia bukan orang miskin, tapi mentalnya miskin karena tidak mampu bersyukur atas apa yang telah dimilikinya. Mereka yang lupa melihat kebawah, bahwa masih banyak saudara-saudaranya yang kurang beruntung.
Maka, saya yakin jika ada data tentang “ jumlah orang bermental miskin” sekarang, jumlahnya akan lebih besar dari data “jumlah orang miskin” saja. Karena sepertinya masih banyak orang yang malas berusaha. Masih banyak orang yang selalu merasa tidak berkecukupan. Masih banyak orang yang tidak menerapkan prinsip qanaah dalam hidupnya.
Yang perlu kita yakini adalah besarnya usaha yang kita lakukan akan berbanding lurus dengan apa yang kita dapatkan. Jika memang hasil yang kita dapatkan tidak sebanding, yakinlah bahwa kemuliaan yang kita dapatkan jauh lebih besar daripada itu. Semoga kita tidak termasuk orang yang bermental miskin dan tetap membantu sesama manusia untuk mencapai kemuliaan hidup, tidak hanya sekedar “mendapat hasil yang besar”.
We’ll get what we deserve.

Rabu, 26 Maret 2014

Suksesmu, Suksesku?



“Siapa yang tak ingin sukses?”. Sepertinya jika kalimat tanya tersebut dilontarkan di depan kelas, tak satupun murid akan mengacungkan tangannya. Dan jika pertanyaan dibalik menjadi “Siapa yang ingin sukses?”, pastinya semua murid akan mengacungkan tangannya pertanda jawaban “saya ingin”. Tak hanya di kelas, dimanapun pertanyaan seperti itu dilontarkan maka respon yang diberikan tidak akan berbeda.  Karena sukses merupakan tujuan hidup semua manusia, terlepas tafsir sukses bagi setiap orang berbeda-beda. Dan sukses adalah hak setiap manusia, yang ingin berusaha.
Melalui tulisan ini, saya tidak ingin memberikan suatu inspirasi ataupun motivasi yang membuat semangat menggebu untuk menggapai kesuksesan. Tidak juga saya hendak membahas mengenai apa itu kesuksesan yang sejati. Saya hanya ingin berbagi pandangan mengenai proses dalam mencapai sukses itu sendiri. Dalam pandangan saya tentunya.
Seorang yang telah sukses, atau kita sebut “si sukses”, tentu akan menjadi contoh bagi seorang yang masih dalam proses mencapai sukses yang selanjutnya kita sebut “calon sukses”. Kemudian si calon sukses akan mulai mencari tau bagaimana perjalanan si sukses dari awal hingga suksesnya. Kemudian si calon sukses akan mulai mengagumi si sukses, dan bertekad akan seperti si sukses. Mengikuti cara-cara ataupun tips dan trik dari si sukses supaya bisa seperti si sukses. Biasanya alur yang terbentuk kurang lebih akan seperti itu. Kemudian iniliah yang menjadi ganjalan bagi saya. Jika memang saya ingin sukses, apakah saya harus mengikuti cara-cara orang sukses? Apakah saya harus menjalani kehidupan seperti orang sukses? Sementara saya bukan dia, dia bukan saya. Lingkungan hidup saya berbeda dengan dia.
Terkadang kita memang terlalu berambisi untuk bisa mencapai apa yang orang sukses telah capai. Maka kita berpikir bahwa untuk bisa seperti mereka, maka kita ikuti jalan hidupnya kemudian berharap nasib kita akan seperti mereka. Tak ada yang salah pada cara seperti itu, namun coba kita pikirkan.

Bukankah lebih baik mencapai kesuksesan dengan cara kita sendiri?

Mungkin selama ini banyak yang ingin mencapai kesuksesan melalui jalur yang telah dibuat oleh orang lain. Memang tidak ada masalah. Tetapi, akan ada perbedaan ketika kita membuat sendiri jalur menuju sukses kita. Ketika kita mengikuti cara sukses seseorang, kemudian dalam perjalanannya menemukan masalah maka kita akan dengan mudah melaluinya karena cara itu sudah pernah dijalani dan masalah-masalah didalamnya sudah ada pemecahannya, sebagian besar. Namun ketika kita membuat sendiri jalur kesuksesan kita, kemudian menemukan  masalah maka masalah yang kita hadapi kemungkinan besar adalah sesuatu yang baru, dan perlu pemecahan baru pula untuk menyelesaikan masalah tersebut. Maka kita akan bekerja keras, menempa diri, dan memecahkan masalah dengan penyelesaian yang baru. Akan muncul suatu kematangan dan karakter dalam diri kita, hingga akhirnya kita mencapai kesuksesan yang didamba. Tentu akan ada perbedaan jika kita hanya mengikuti pola  kesuksesan dari yang sudah ada. Mungkin akhirnya tetap akan sama-sama sukses, namun bagi saya akan ada hasil lebih yang diperoleh yaitu kematangan dan karakter, disamping kepuasan pribadi tentunya.
Sampai sekarang saya masih berprinsip bahwa saya bukan kamu, saya belum tentu benar, kamu belum tentu salah. Apa yang baik bagimu, belum tentu baik bagi saya. Apa yang sesuai bagimu, belum tentu sesuai bagi saya. Bukan bermaksud untuk menjadi seseorang yang sombong ataupun angkuh, namun saya hanya berusaha menjadi diri sendiri, dan mencoba membentuk karakter diri.
Tapi bukan berarti kita menutup mata dan menjadi seorang individualis, karena selalu ada pelajaran yang bisa dipetik dari seorang yang lebih berpengalaman dan telah mencapai kesuksesan. Yang saya maksudkan adalah akan lebih baik jika kita membuat jalur sukses kita sendiri daripada mengikuti jalur sukses orang lain. Namun keduanya tidak ada yang salah, semua tergantung bagaimana kita berpandangan. Dan tidak perlu pula saya memaksakan pandangan saya.

Selasa, 04 Maret 2014

Yang Baik Dan Yang Buruk


      Malam sudah menjelang, namun pikiran masih menjalang. Kuliah pagi di esok hari rupanya tak membuat mata ini menyerah untuk terpejam. Lalu saya iseng melamun, sembari menunggu rasa kantuk datang menyerang. Celakanya, lamunan ini justru membuat saya bertanya-tanya :

Apakah semakin tua manusia justru semakin sulit membedakan yang baik dan yang buruk?

    Mengapa saya berpikir seperti itu? Jika kita ambil contoh gampang, kira-kira begini. Sewaktu kecil, kita selalu diajarkan bahwa buang sampah sembarangan itu salah, merokok itu tidak baik, mencontek itu tidak diperbolehkan, mencuri itu salah. Betul, sewaktu kecil kita akan sangat ketakutan apabila kita melakukan hal-hal tersebut. Tapi mengapa ketika kita sudah bertambah usia, dan kita sudah dapat berpikir secara logis dan rasional, justru hal-hal tersebut dengan tanpa rasa takut kita lakukan dengan berbagai dalih dan alasan. Buang sampah sembarangan, merokok di tempat umum, mencontek saat ujian, korupsi, dan mengambil hak orang lain seolah kita lakukan tanpa ada rasa takut meskipun kita tau bahwa hal tersebut salah.
      Jika seperti itu, saya lalu berpikir apakah kematangan kita dalam menentukan baik buruk justru terjadi saat pemikiran kita masih polos?  Ketika kita hanya mengetahui bahwa ini baik, itu buruk. Harus begini, harus begitu. Sementara, ketika kita sudah dapat berpikir logis dan rasional, justru kita sangat mudah melakukan hal yang buruk dan tidak sesuai dengan pemahaman kita sewaktu kanak-kanak.
     Namun, saya mencoba berpikir lebih jauh. Ketika kita masih polos, apa yang kita terima tak ubahnya sebuah dogma.Ini baik, ini buruk. Ini betul, itu salah. Harus begini, harus begitu. Dan kita akan menerimanya mentah-mentah tanpa kita pikirkan mendalam. Sehingga kita akan betul-betul menjalankan sesuai apa yang kita terima. Dan kemudian, kita bertambah tua. Bertambah matang. Pada fase ini, kita akan berpikir lebih logis dan mendalam. Maka ketika kita semakin dewasa, kita tidak akan menyatakan sesuatu baik atau buruk karena dogma, melainkan kita menemukan kebenaran tersebut berdasarkan buah pemikiran kita. Karena kita akan selalu beranggapan ini  belum tentu benar ataupun itu belum tentu salah ketika berhadapan dengan suatu perkara.  
      Memang tidak serta merta semua manusia dewasa bisa menentukan mana yang baik mana yang buruk, karena banyak manusia yang enggan berpikir atau tidak peduli. Sesuatu yang buruk justru bisa dibilang baik. Dan pemikiran subjektif dijadikan pembenaran untuk melakukan hal yang buruk. Maka seolah terjadi degradasi seiring pertambahan usia manusia tersebut, karena dia tidak dapat menggunakan pikirannya secara baik untuk menemukan mana yang baik dan mana yang buruk. 
      Jadi, bukanlah semua manusia ketika beranjak tua justru makin sulit membedakan baik dan buruk. Yang ada hanyalah manusia yang semakin dewasa namun enggan berpikir akan menjadi sulit membedakan yang baik dan yang buruk.

Akhirnya pemikiran tersebut berujung pada suatu pertanyaan :

“Apakah saya termasuk orang yang enggan berpikir dan tidak peduli?”