Serunya gempuran
tugas sebagai mahasiswa profesi sekarang ini terkadang menghadirkan stress yang
kerap melanda, terutama saat deadline hampir tiba. Rasanya memang seperti
dikejar ratusan serigala lapar yang berlari mengejar dengan status full speed. Ngos-ngosan. Tapi ada satu hal
sederhana yang selalu membuat saya dapat mengatasi tekanan tersebut.
Melamun.
Melamun.
Ya, saat melamun
saya merasakan seperti dalam keadaan slow
motion. Seolah ratusan serigala lapar yang mengejar saya dengan kecepatan
penuh sekarang hanya sedang jogging ringan saja. Cari keringat. Santai. Kemudian lamunan tersebut membawa
saya berpikir, atau lebih tepatnya menerawang, tentang berbagai hal yang tidak
ada hubungannya dengan tugas sama sekali. Dan seperti sebelum-sebelumnya,
lamunan tersebut akan saya tuangkan dalam tulisan amatir ini. Lamunan ini bukan
lamunan hampa tak bermakna. Lamunan ini bukan sekedar imaji. Tapi ini adalah lamunan masa kini.
Jadi begini,
lamunan saya adalah mengenai masa depan. Saya tidak akan membahas mengenai masa
depan saya sendiri, bukan itu poinnya. Saya coba membahas dari sisi yang lain.
Haruskah kita mengorbankan masa kini demi masa depan?
Haruskah kita mengorbankan masa kini demi masa depan?
Masa depan. Masa
yang berada di depan. Suatu keadaan yang akan terjadi di kemudian waktu. Tahun
depan adalah masa depan bagi tahun ini.
Esok hari adalah masa depan bagi hari ini. Dan masa kini adalah masa depan bagi
masa lalu.
Saya yakin
sebagian besar dari kita adalah yang percaya bahwa masa depan ataupun cita-cita
harus kita letakkan setinggi langit. Sejak saat itu juga kita mulai berlari
secepat mungkin, karena kita tidak pernah tau sebenarnya di langit yang
seberapa jauhkah telah kita letakkan masa depan tersebut. Masa depan dapat saja
terjadi sesuai keinginan kita, tapi bisa juga tidak seperti yang diharapkan. Manis
atau pahit, semua tetap akan terjadi.
Apa yang akan
kita capai di masa depan, ditentukan oleh apa yang kita lakukan di masa kini. Saya
percaya sekali prinsip ini, dan sepertinya semua pun begitu. Namun saya sering
mengamati, banyak sekali orang-orang yang sibuk sekali memikirkan dan terlalu
terobsesi dengan masa depannya yang diinginkan hingga lupa menikmati masa kini.
Sepertinya jiwanya ingin berlari lebih kencang meninggalkan jasadnya. Terkadang
melupakan pentingnya langkah-langkah kecil saat ini untuk sampai di tujuan.
Mengorbankan
kebahagiaan masa kini demi kebahagiaan masa depan, begitu katanya. Saya
sebetulnya tidak sependapat dengan pemikiran tersebut. Masa depan itu tidak
berlimit. Setelah masa depan akan ada masa depan lagi dan terus tak akan pernah
berhenti. Sekalipun kita mati, masih ada afterlife.
Selama waktu tak terhenti, maka akan selalu ada masa depan. Dan waktu adalah
rahasia Sang Pencipta. Tidak ada yang
dapat mengatakan “ini adalah masa depan” karena pasti masih ada masa depan
setelah masa depan. Jadi bagaimana mungkin saya akan mengorbankan masa kini dan
seterusnya untuk mencapai kebahagiaan di masa depan? Berapa banyak kebahagiaan
yang seharusnya dapat saya rasakan? Maka saya memilih untuk menikmati masa kini
sebagai jalan menuju kebahagiaan yang saya impikan di masa depan, yang entah
dimana akan bermuaranya.
Cukup sudah
lamunan tersebut mengalihkan saya. Singkat, padat, dan mungkin tidak jelas. Mari kembali menikmati sensasi lemah letih
lesu dikejar deadline. Lamunan ini memang masa kini saat saya menuliskannya.
Tapi sebenarnya lamunan ini juga adalah lamunan masa depan sebelum saya mulai menuliskannya,
dan akan jadi lamunan masa lalu ketika anda membacanya.