Senin, 12 Mei 2014

Miskin dan Bermental Miskin



Cukup mengkhawatirkan ketika kita menyaksikan sendiri bahwa jutaan saudara kita di Negara ini masih hidup dibawah garis kemiskinan. Tak pelak, terkadang kita mudah saja berbicara bahwa “Pemerintah gagal”. Tentu kita akan sangat mudah berbicara seperti itu, dan melimpahkan semua kesalahan pada satu pihak. Karena kita merasa tidak terlibat dalam kenyataan ini. Tapi kita tidak bicara bagaimana seharusnya pemerintah memerangi kemiskinan bla bla bla. Saya hanya ingin berbagi pandangan.
Ada satu hal yang patut dipertanyakan, apa betul dari jutaan warga miskin itu betul-betul miskin? Atau sebagiannya bermental miskin?
Terdapat perbedaan yang kentara antara miskin dengan bermental miskin. Miskin adalah kondisi hidup manusia yang sulit untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam hidupnya. Sementara bermental miskin adalah kondisi psikologis, dimana seseorang selalu merasa tidak berkecukupan dan mengharap belas kasih dari orang lain untuk membantu memenuhi kebutuhannya. Entah kebutuhan pokok, ataupun hanya kebutuhan sekunder maupun tersier. Paling tidak, ada 3 hal yang berhubungan dengan miskin dan bermental miskin yang perlu kita cermati.
Orang miskin belum tentu bermental miskin. Pada realitanya, banyak orang miskin yang enggan berpangku tangan dan menunggu belas kasihan dari orang lain. Mereka memilih bekerja dan berusaha, sebagai cara terhormat untuk lepas dari kemiskinannya. Tak jarang, mereka harus memeras keringat berkali lipat, tidur lebih singkat, berhadapan dengan maut lebih dekat, dan mengambil resiko yang lebih berat. Tentu dilandasi dengan kejujuran. Inilah orang miskin yang tidak bermental miskin, mereka bekerja untuk mengubah nasibnya. Dan tentu memiliki keyakinan bahwa Tuhan tak akan mengubah nasibnya kecuali ia sendiri yang berusaha mengubahnya, sebagaimana sudah dijelaskan dalam Q.S Ar-Ra’d Ayat 11.
Orang yang bermental miskin bisa jadi memang orang miskin. Mari kita cermati. Memang, banyak juga orang miskin yang bermental miskin. Hanya memangku tangan menunggu lembaran demi lembaran rupiah berpindah padanya. Mudah saja kita temui orang-orang yang menjadikan mengemis sebagai profesi karena hasil dari mengemis jauh lebih besar dibanding bekerja, dengan usaha yang lebih sedikit tentunya. Ada yang  menyuruh anaknya mengemis di perempatan jalan untuk mendapatkan uang, sementara sang orang tua bersantai di tempat yang teduh. Ada juga yang menyatakan diri miskin agar dapat menerima  BLT atau Raskin, padahal mampu membeli beras. Ya, mereka mungkin memang betul orang miskin dan mereka juga bermental miskin.
Orang yang bermental miskin bisa jadi bukan orang miskin. Ini fenomena yang saya amati belakangan sedang terjadi. Tidak sedikit orang-orang yang sesungguhnya sudah berkecukupan, tapi merasa tidak punya apa-apa. Bukan rendah hati, tapi tidak bersyukur. Kita ambil contoh gampang, maksudnya kurang lebih seperti ini. Di era hi-tech  ini, perkembangan teknologi begitu pesat. Gadget adalah salah satu produk dari era teknologi canggih ini. Banyak orang yang tidak ingin ketinggalan segala tren gadget ini. Dan ketika mereka tidak bisa memiliki apa yang sedang menjadi tren dan mereka inginkan tersebut, kemudian mereka merasa tidak memiliki apa-apa. Lupa bersyukur atas gadget-gadget yang telah mereka miliki sebelumnya. Lupa bahwa tidak semua orang bisa menikmati mutakhirnya gadget dan menganggap gadget adalah suatu kebutuhan primer, setara sandang, pangan, dan papan padahal bukan. Kemudian mereka meminta untuk dibelikan gadget terbaru tersebut pada orang tuanya, misalkan, tanpa memikirkan kondisi keuangan orangtuanya. Ini yang saya maksud dia bukan orang miskin, tapi mentalnya miskin karena tidak mampu bersyukur atas apa yang telah dimilikinya. Mereka yang lupa melihat kebawah, bahwa masih banyak saudara-saudaranya yang kurang beruntung.
Maka, saya yakin jika ada data tentang “ jumlah orang bermental miskin” sekarang, jumlahnya akan lebih besar dari data “jumlah orang miskin” saja. Karena sepertinya masih banyak orang yang malas berusaha. Masih banyak orang yang selalu merasa tidak berkecukupan. Masih banyak orang yang tidak menerapkan prinsip qanaah dalam hidupnya.
Yang perlu kita yakini adalah besarnya usaha yang kita lakukan akan berbanding lurus dengan apa yang kita dapatkan. Jika memang hasil yang kita dapatkan tidak sebanding, yakinlah bahwa kemuliaan yang kita dapatkan jauh lebih besar daripada itu. Semoga kita tidak termasuk orang yang bermental miskin dan tetap membantu sesama manusia untuk mencapai kemuliaan hidup, tidak hanya sekedar “mendapat hasil yang besar”.
We’ll get what we deserve.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar