Minggu, 29 Maret 2015

Ironi




Menikmati malam dengan secangkir kopi, entah siapa yang pertama kali menemukan metode ini. Kopi kental, cukup nikmat. Sembari menerawang dan melayangkan pemikiran-pemikiran menjelang pergantian hari menurut kalender syamsiah. Sebenarnya saya ini tidak benar-benar menghayati metode menikmati malam dengan secangkir kopi ini, tapi setidaknya itulah kebiasaan para pendahulu yang saya amati dan coba saya ikuti, sebagai generasi penerus.
Ditengah segala ke-riweuh-an praktek kerja dan tekanan tinggi akibat laporan yang tak kunjung melegakan, akhirnya saya meluangkan waktu kembali untuk santai sejenak dan membuat tulisan yang sesungguhnya tidak penting-penting amat bagi pembacanya. Sekedar menuangkan dan meluangkan sedikit isi kepala supaya kepala tidak terlalu pagujud.

Begini. Pernahkah anda menemukan suatu ironi di sekitar anda?

Ironi. Suatu pertentangan atas harapan. Sesuatu yang tidak seharusnya dan sesuatu yang berlawanan namun sudah menjadi takdir. Ironi adalah bagian dari kehidupan. Seorang dokter harus berobat karena sakit, seorang penghibur yang justru depresi, penegak hukum yang melanggar hukum, semua terjadi dalam kehidupan. Ironi yang terkini adalah, ketika berkumpul bersama teman-teman, tampak seru di update-an media sosial namun pada kenyataannya sepi karena masing-masing bukan asyik mengobrol atau melempar humor dengan teman yang ada di depan mata tapi asyik dibuat nyengir oleh teman maya yang sebenarnya entah ada dimana.
Mungkin manusia memang gemar membuat suatu ironi. Lihatlah beberapa manusia yang ingin menikmati keindahan alam dengan merusak alam. Lihat villa-villa dan perumahan yang berada di daerah pegunungan yang menawarkan panorama indah, udara sejuk, dan eksotisme alam kemudian dibanderol dengan harga mahal. Berapa luas alam yang dirusak dan dampak yang harus ditanggung untuk kita dapat menikmati keindahan alam? Logika “merusak alam untuk menikmati keindahan alam” sungguh tidak dapat diterima bagi manusia yang sadar. Kemudian ironi ini memunculkan ironi lainnya. Berapa banyak daerah dengan curah hujan tinggi tapi kesulitan air?
Mungkin juga manusia tak sadar bahwa ia sedang membuat suatu ironi. Kadang ketika kita merasa paling hebat, pada saat itulah sebenarnya kita memperlihatkan kelemahan kita. Ketika kita merasa paling benar, saat itulah kita melakukan kesalahan. Saat kita merasa paling pintar, saat itulah kita sedang melakukan kebodohan. Saat kita merasa paling berpikir, justru disitu kita sedang tidak memikirkan perasaan orang. Ironi yang paling berat bagi saya pribadi adalah ketika melihat orang yang merasa dirinya sudah sangat berilmu, besar, dan berpengaruh kemudian meragukan, mengecilkan, dan mengesampingkan peran Tuhan. Bagaimana bisa dengan ilmu kita yang hanya ibarat setetes air dari lautan tak berbatas dari ilmu milik Tuhan bisa menyombongkan diri?
Pada akhirnya, mata pula yang menyudahi tulisan ini. Kantuk memang bukan untuk dilawan, tapi dinikmati hingga terbuai lelapnya tidur. Setidaknya, dari ironi kita bisa belajar bahwa makna yang sesungguhnya bisa jadi bertentangan dengan apa yang kita nyatakan.

 Kita semua memang manusia yang tak terlepas dari ironi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar