Rabu, 09 September 2015

Centong Sangu : Dreamception


Centong Sangu : Cerita Pendek, Terpotong-potong, dan Terkesan Dungu, merupakan cerita/tulisan selingan tidak bermutu tanpa inti, tanpa pesan moral, dan asal jadi. Karena menulis dan membaca tidak harus selalu mencerdaskan. Kekecewaan merupakan tanggungan pembaca.

Pagi hari yang tenang dan dingin, tampak burung yang tegak berdiri menantang, di atas kabel listrik. Harmoni yang tercipta dari paduan suara knalpot vespa serta tukang tahu yang lewat rupanya sanggup menyadarkannya dari lelap. Kelopak mata atas dan bawah yang tadinya sedang asyik bercumbu akhirnya harus berpisah. Hadirlah sepasang bola mata yang terlihat merah dengan lingkar hitam di tengahnya.

”Hmeeehhh. Hhaaaahh hmmeehh hmmeeh”

Bahasa orang yang sedang lulungu (kondisi setengah sadar ketika berusaha mengumpulkan nyawa saat bangun tidur) memang begitu. Dia menggumam diantara panik dan tunduhnya. Beberapa detik kemudian, terdengar suara gonjrang ganjreng yang memekikkan telinga. Oh! Ternyata suara alarm dengan suara musik metal dari handphone. Sambil gosok-gosok mata dia matikan alarm dan mencoba mencerna dan memahami. Jam berapakah ini?

07.45 ante meridiem.

Mendadak ia loncat dan mengambil pakaian kuliah dan bergegas mandi dengan terburu-buru. Saking terburu-burunya ia lupa melepas baju saat mandi. Mandi gesit cukup 5 menit yang penting pakai sabun dan basah. Ya, dia terburu-buru karena hari ini memang jadwal kuliah salah satu dosen yang terbukti killer secara empirik. Dan kuliahnya jam 8. Jarak antara rumahnya dan kampus kurang lebih 18,45 KM. Sehingga, jika dia ingin mencapai kampus dalam waktu 10 menit saja, dia harus melaju di jalanan dengan kecepatan rata-rata 110 km/jam.

Dia berpikir keras selama 10 menit. Tidak akan ada kesempatan baginya untuk tidak terlambat kuliah, karena saat dia selesai berpikir keras jam sudah menunjukkan pukul 08.00. Tampak sia-sia dan mengecewakan. Dia butuh doraemon dan segala alat ajaibnya. Sayang, dia dan doraemon hidup di dimensi yang berbeda. Akhirnya  dia menyadari, tidak ada yang dia bisa lakukan agar tidak terlambat.

Akhirnya dia memilih berdamai dengan waktu dan probabilitas, karena tak mungkin dia melawannya. Maka ia memutuskan kembali tidur saja menenangkan pikiran serta menghilangkan masalahnya.

JRENG!

Dia kembali terbangun. Kali ini dia bingung, karena terdengar suara ribut di sekelilingnya. Telinganya masih belum bisa mencerna karena belum tune in. Sampai akhirnya terdengar suara “cuy itu dipanggil sama dosen daritadi”.

Kalem, kalem. Apa ini. Apa itu. Oh! Akhirnya dia sadar sedang berada di kelas Herbal Medisin. Rupanya terbangun karena telat ke kampus itu hanya mimpi yang terbawa-bawa dari kehidupan sehari-hari! Akhirnya untuk menutupi malu yang tidak mungkin tertutupi, dia menjatuhkan handphone serta buku dari mejanya seraya menundukkan badan untuk mengambil handphone dan buku tersebut. Dia berasumsi dengan strategi seperti ini, setidaknya ketika dosen memanggil dia yang ke sekian kalinya dia bisa meminta maaf dan beralasan tadi sedang ke kolong meja untuk mengambil barang yang jatuh dan agak susah sehingga tidak terdengar.

Eureka!! Brilian.

Rupanya rencana tak berjalan semulus marmer Italy. Dosen tersebut sudah mengetahui bahwa ia sedari tadi tidur dan menyuruh teman sebelahnya untuk membangunkannya. Dengan begitu tentu saja rasa malu yang hebat tidak bisa dihindarkan. Mau apa lagi. Dalam hal ini, hukum ”nothing is impossible” gugur karena ternyata “something is impossible”. Ya sudah, mau apa lagi. Dia terima saja sindiran dosen yang disertai tawa orgasmic rekan-rekannya. Secara gentle.
Diiringi gelak tawa, setidaknya dia masih berusaha menyalakan harapan meskipun setitik saja.

“Ah semoga ini juga cuma mimpi”


To be discontinued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar