Jumat, 01 Januari 2016

Menyoal Waktu

Tepat pukul 00.00 waktu Margahayu Raya Barat, langit sudah ramai oleh warna warni dan hingar bingar kemeriahan kembang api menyambut bumi kita yang kembali menyelesaikan satu putaran mengelilingi matahari. Bahkan, 10 menit sebelum pukul 00.00 sudah banyak yang gatal dan duluan menyalakan kembang api. Mungkin mereka golongan manusia yang sudah ngantuk dan ingin cepat tidur. Tidak apa, perbedaan adalah sumber keasyikan dan keindahan, bagi mereka yang percaya. Tahun 2015 merupakan tahun terakhir sebelum tahun kabisat pada 2016. Berarti sejatinya bumi baru benar-benar selesai mengelilingi matahari setelah 365,75 hari, atau ±18 jam setelah pukul 00.00. Namun sepertinya tidak ada kaum antimainstream yang merayakan pergantian tahun jam 6 maghrib, mungkin takut pamali dan kuyup karena di Margahayu memang hujan.
Dalam kantuk serta linglung pasca malam tahun baru dan juga euforia liburan yang tertunda seminggu , mendadak saya ingin membuat sebuah artikel. Tenang saja, artikel ini tidak akan memuat target-target, harapan, resolusi pribadi saya di tahun baru, karena saya mengerti anda pun tidak akan peduli, teu ngaruh ka hirup dewek. Lagipula, saya orang yang cukup malas untuk membuat yang begitu-begitu. Di malam yang sesunyi ini, tiba-tiba saya ingin menggerutu soal waktu. Tapi karena saya bukan seorang yang kompeten untuk membahas waktu secara sains, maka saya akan membahas waktu dari sisi yang lain.

Mari mulai. 

Pembaca yang (mungkin) berbahagia, kita sebagai penghuni alam raya beserta mahkluk dan benda lainnya sudah dikodratkan untuk terjebak dalam waktu yang terus bergerak maju. Waktu memang sesuatu yang tidak dapat kita lihat, tapi dapat kita nyatakan dalam suatu ukuran. Diluar ukuran yang eksak, secara gaib waktu pun dapat dipersepsikan berbeda oleh tiap individu. 5 menit yang dirasa sangat cepat bagi individu yang sedang menikmati senda gurau bersama kawan-kawan terbaik akan menjadi 5 menit yang dirasa sangat lama (serta menyiksa) bagi orang yang sedang dalam perjalanan dan terjadi pemberontakan di dalam perut. Sebetulnya sama-sama saja 5 menit, secara pengukuran. Tapi karena adanya perbedaan kondisi dan situasi, terjadi pula perbedaan persepsi mengenai waktu. Sudah alamiah bahwa kita lebih menerima kondisi yang nyaman dibandingkan kondisi yang “menyebalkan”. Ketika kita sedang dibuai kenikmatan, kenyamanan, kita seringkali lalai akan adanya waktu. Sementara pada kondisi yang menyebalkan, justru kita dapat merasakan adanya waktu.  Suatu yang pasti, waktu tidak akan pernah kembali dalam kondisi apapun, dan pada akhirnya waktu akan diapresiasi dalam bentuk rasa syukur atau sesal.
Kemarin, saya nonton film The Other F Word (2011) yang merupakan film dokumenter perjalanan hidup para punk rockers yang kini sudah menjadi seorang ayah. Cukup menarik, bagaimana mereka berbicara mengenai dirinya yang selalu meneriakkan pemberontakan, salah satunya terhadap orang tua, kini mereka menjadi orang tua. Mereka menghabiskan masa muda dalam kekelaman, kebrutalan, bertindak bebas, dan tidak terkendali. Namun ketika mereka sudah jadi orang tua, mereka ingin anaknya tidak mengalami apa yang mereka alami semasa muda, yang sebagian besar ditinggalkan atau mengalami hal yang tidak mengenakkan dari figur seorang ayah. Ketidakhadiran seorang ayah, mengakibatkan hidup yang mereka jalani berada pada kondisi yang menyebalkan. Itulah mengapa, waktu yang dilalaikan seseorang dapat menjadi waktu yang terbuang sia-sia bagi orang lain. Waktu dilalaikan sosok ayah tersebut , adalah waktu yang terbuang sia-sia dan seharusnya didapat anak untuk merasakan kehadiran dan didikan dari ayahnya. Waktu terus bergerak, dan kini berganti mereka berposisi sebagai ayah. Mereka yang merasakan waktu mudanya bersama seorang ayah terbuang begitu saja, kini tidak ingin anaknya merasakan kepedihan yang sama seperti mereka. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada untuk dimanfaatkan bersama keluarganya yang dicintai.
Berbicara tentang waktu memang tidak akan ada habisnya. Dan selama waktu berjalan, akan selalu terjadi perubahan dan kejadian yang menyertai perjalanannya. Yang kuat akan menjadi lemah, yang lemah jadi kuat. Yang kecil jadi besar, yang besar jadi kecil. Dan lain-lain, sampai pada suatu titik waktu akan berhenti dan menjadi akhir.
Itulah. Sebaiknya disudahi saja supaya tidak semakin panjang waktu pembaca yang terbuang akibat membaca tulisan amatiran ini. Dan ketika menulis artikel ini, sesungguhnya saya sendiri bertanya-tanya dan berotokritik. “Buat apa nulis artikel tentang waktu. Bukannya kamu sendiri belum bisa menghargai waktu?”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar