Tepat pukul
00.00 waktu Margahayu Raya Barat, langit sudah ramai oleh warna warni dan
hingar bingar kemeriahan kembang api menyambut bumi kita yang kembali
menyelesaikan satu putaran mengelilingi matahari. Bahkan, 10 menit sebelum
pukul 00.00 sudah banyak yang gatal dan duluan menyalakan kembang api. Mungkin
mereka golongan manusia yang sudah ngantuk dan ingin cepat tidur. Tidak apa,
perbedaan adalah sumber keasyikan dan keindahan, bagi mereka yang percaya. Tahun
2015 merupakan tahun terakhir sebelum tahun kabisat pada 2016. Berarti
sejatinya bumi baru benar-benar selesai mengelilingi matahari setelah 365,75
hari, atau ±18 jam setelah pukul 00.00. Namun sepertinya tidak ada kaum
antimainstream yang merayakan pergantian tahun jam 6 maghrib, mungkin takut pamali dan kuyup karena di Margahayu
memang hujan.
Dalam kantuk
serta linglung pasca malam tahun baru dan juga euforia liburan yang tertunda
seminggu , mendadak saya ingin membuat sebuah artikel. Tenang saja, artikel ini
tidak akan memuat target-target, harapan, resolusi pribadi saya di tahun baru,
karena saya mengerti anda pun tidak akan peduli, teu ngaruh ka hirup dewek. Lagipula, saya orang yang cukup malas untuk
membuat yang begitu-begitu. Di malam yang sesunyi ini, tiba-tiba saya ingin
menggerutu soal waktu. Tapi karena saya bukan seorang yang kompeten untuk
membahas waktu secara sains, maka saya akan membahas waktu dari sisi yang lain.
Mari mulai.
Pembaca yang
(mungkin) berbahagia, kita sebagai penghuni alam raya beserta mahkluk dan benda
lainnya sudah dikodratkan untuk terjebak dalam waktu yang terus bergerak maju.
Waktu memang sesuatu yang tidak dapat kita lihat, tapi dapat kita nyatakan
dalam suatu ukuran. Diluar ukuran yang eksak, secara gaib waktu pun dapat dipersepsikan
berbeda oleh tiap individu. 5 menit yang dirasa sangat cepat bagi individu yang
sedang menikmati senda gurau bersama kawan-kawan terbaik akan menjadi 5 menit
yang dirasa sangat lama (serta menyiksa) bagi orang yang sedang dalam perjalanan
dan terjadi pemberontakan di dalam perut. Sebetulnya sama-sama saja 5 menit,
secara pengukuran. Tapi karena adanya perbedaan kondisi dan situasi, terjadi
pula perbedaan persepsi mengenai waktu. Sudah alamiah bahwa kita lebih menerima
kondisi yang nyaman dibandingkan kondisi yang “menyebalkan”. Ketika kita sedang
dibuai kenikmatan, kenyamanan, kita seringkali lalai akan adanya waktu.
Sementara pada kondisi yang menyebalkan, justru kita dapat merasakan adanya
waktu. Suatu yang pasti, waktu tidak
akan pernah kembali dalam kondisi apapun, dan pada akhirnya waktu akan
diapresiasi dalam bentuk rasa syukur atau sesal.
Kemarin, saya
nonton film The Other F Word (2011)
yang merupakan film dokumenter perjalanan hidup para punk rockers yang kini sudah menjadi seorang ayah. Cukup menarik,
bagaimana mereka berbicara mengenai dirinya yang selalu meneriakkan
pemberontakan, salah satunya terhadap orang tua, kini mereka menjadi orang tua.
Mereka menghabiskan masa muda dalam kekelaman, kebrutalan, bertindak bebas, dan
tidak terkendali. Namun ketika mereka sudah jadi orang tua, mereka ingin
anaknya tidak mengalami apa yang mereka alami semasa muda, yang sebagian besar
ditinggalkan atau mengalami hal yang tidak mengenakkan dari figur seorang ayah.
Ketidakhadiran seorang ayah, mengakibatkan hidup yang mereka jalani berada pada
kondisi yang menyebalkan. Itulah mengapa, waktu yang dilalaikan seseorang dapat
menjadi waktu yang terbuang sia-sia bagi orang lain. Waktu dilalaikan sosok
ayah tersebut , adalah waktu yang terbuang sia-sia dan seharusnya didapat anak
untuk merasakan kehadiran dan didikan dari ayahnya. Waktu terus bergerak, dan kini
berganti mereka berposisi sebagai ayah. Mereka yang merasakan waktu mudanya
bersama seorang ayah terbuang begitu saja, kini tidak ingin anaknya merasakan
kepedihan yang sama seperti mereka. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktu
yang ada untuk dimanfaatkan bersama keluarganya yang dicintai.
Berbicara
tentang waktu memang tidak akan ada habisnya. Dan selama waktu berjalan, akan
selalu terjadi perubahan dan kejadian yang menyertai perjalanannya. Yang kuat
akan menjadi lemah, yang lemah jadi kuat. Yang kecil jadi besar, yang besar
jadi kecil. Dan lain-lain, sampai pada suatu titik waktu akan berhenti dan
menjadi akhir.
Itulah. Sebaiknya
disudahi saja supaya tidak semakin panjang waktu pembaca yang terbuang akibat
membaca tulisan amatiran ini. Dan ketika menulis artikel ini, sesungguhnya saya
sendiri bertanya-tanya dan berotokritik. “Buat apa nulis artikel tentang waktu.
Bukannya kamu sendiri belum bisa menghargai waktu?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar