Rabu, 31 Oktober 2018

Opini Asal-asalan


Setelah satu tahun berlalu, rasanya sudah saatnya untuk kembali untuk menebar manfaat dan mudharat sekaligus lewat suatu artikel. Senang sekali rasanya bisa menyapa anda-anda sekalian disini, kawan-kawan pembaca sekalian, yang sedang berbahagia maupun tidak, yang waras maupun tidak, yang sedang sibuk maupun kurang kerjaan sampai bisa baca blog ini. Meskipun saya sangsi, memang blog ini masih ada pembacanya ya?

Ya, 383 hari sudah semenjak saya curhat melalui prolog dalam tulisan terakhir dikala saya berada di persimpangan jalan untuk memilih jalur kehidupan. Dan ternyata, skenario Tuhan memang tidak pernah bisa kita prediksi. Siapa sangka, akhirnya sekarang saya jadi dosen di tempat saya berkuliah dulu. Wong saya aja nggak nyangka. Ternyata saya pulang ke Jatinangor. Si tukang sare jeung ngaret ayeuna jadi dosen. Tapi nggak juga, saya sebetulnya selalu duduk paling depan, senantiasa terjaga, memperhatikan, dan sigap…. saat nyetir motor. Begitulah, aneh tapi nyata. Tapi hidup memang jauh lebih indah dari FTV. And I really enjoy this.

Saya menulis artikel ini sore hari di kampus saat hujan turun. Sebetulnya bukan karena suasananya indie banget, senja & hujan (sayang minus kopi), kemudian inspirasi jadi berdatangan. Tapi memang karena saya gak bawa jas hujan jadi gak bisa pulang dan saya ujug-ujug kepingin nulis. Yasudah.

Kawan-kawan pembaca yang saya banggakan, pernahkah anda mengerjakan sesuatu secara asal-asalan?

Entah mengapa, tiba-tiba saya ingin membahas perkara tersebut. Rasanya terlalu banyak hal-hal sepele yang biasa kita kerjakan sehari-hari maupun suatu proyek besar dikerjakan secara asal-asalan. Yang penting asal beres dulu, kualitas nomor sekian.

Apa ini budaya kita?

Mungkin terlalu dini untuk menyimpulkan hal tersebut. Pasti banyak faktor yang membuat kita akhirnya “terpaksa” harus mengerjakan sesuatu secara asal. Menurut saya, ada 3 alasan utama mengapa ini bisa terjadi. Mari kita coba cermati dan sadari bersama.

Mengerjakan sesuatu diluar kompetensinya. Ini bisa jadi suatu alasan utama mengapa banyak pekerjaan yang terkesan dilakukan secara asal. Suatu pekerjaan, apapun itu, akan selesai dengan baik apabila dikerjakan oleh seseorang yang memiliki kompetensi disitu. Contoh kasus, misalkan seorang Dokter gigi ketika harus menambal gigi, tentu dapat menyelesaikan pekerjaannya secara baik. Tapi bagaimana dokter gigi disuruh tambal ban bocor? tambal genteng bocor? Wajar jika hasil pekerjaannya kurang baik dan dinilai asal-asalan. Ya karena memang bukan itu kompetensinya. Celakanya, contoh kasus tadi seringkali terjadi di kehidupan sehari-hari. Banyak orang yang harus/terpaksa/dipaksa mengerjakan sesuatu diluar kompetensinya. Hasilnya? Ya begitu, bisa selesai aja sudah syukur, boro-boro mengharap hasil bagus.    

Tenggat waktu yang tidak realistis. Deadline yg keblinger. Pekerjaan normal butuh waktu 3 hari, dipaksa selesai dalam waktu 5 jam. Itu keblinger. Sesat. Keliru. Ini adalah awal mula pekerjaan akhirnya diselesaikan secara asal-asal. Bekerja cepat itu memang harus dan bagus, tapi bukan berarti semua pekerjaan bisa dilakukan dengan serba cepat dan mendadak. Belajarlah dari kisah Roro Jonggrang yang minta ke Bandung Bondowoso untuk dibuatkan 1000 candi dalam semalam. Bandung Bondowoso memang bisa membuat sampai 999 candi, tapi dibantu sama jin, setan, dedemit. Apa perlu begitu? Atau belajar dari kisah Sangkuriang yang diminta oleh Dayang Sumbi untuk dibuatkan telaga dan perahu dalam waktu semalam. Sangkuriang hampir menyelesaikan pekerjaannya dibantu para makhluk halus dan tetap gagal. Akhirnya apa? emosi bisa membuncah. Karena kesal perahu ditendang sampai kebalik, kebayang kan kesalnya kayak apa? Sampai bisa jadi gunung Tangkuban Perahu. Jadi meskipun anda sudah bekerja sebaik mungkin sampai harus dibantu makhluk halus dan hampir menyelesaikan pekerjaan tersebut, jika anda tidak selesai sesuai dengan tenggat waktu maka anda akan dianggap gagal. Itulah, unofficial moral of those stories versi artikel ini.

Rakus dalam pekerjaan. Terkadang, ada orang yang memang ingin mengerjakan segala sesuatunya oleh sendiri. Niatnya bisa jadi baik, tapi saya pribadi lebih berpandangan bahwa dalam mengerjakan sesuatu lebih baik fokus daripada rakus. Mengerjakan satu pekerjaan dengan fokus dan sungguh-sungguh sampai tuntas, maka akan menghasilkan suatu hasil kerja yang berkualitas. Sayangnya, banyak orang lebih memilih rakus dalam bekerja, dan saya orang yang yakin bahwa manusia tidak bisa fokus pada dua hal yang berbeda, apalagi lebih. Multitasking? Pikir lagi. Multitasking hanya akan menambah bahkan membuang-buang waktu dalam bekerja dan bisa jadi hasilnya ”asal jadi”. Silakan pembaca sekalian amati hasil kerja orang-orang yang fokus pada suatu bidang atau suatu pekerjaan, dengan orang yang sagala digawean.

Mungkin ada banyak faktor lain yang menyebabkan kenapa orang mengerjakan sesuatu secara asal-asalan yang seharusnya dibahas di artikel ini, tapi karena waktu jualah kita harus berhenti sampai disini. Dan mumpung hujan sudah reda, saatnya untuk pulang karena jika diteruskan saya bisa dikunci satpam di lab. 

Bagi anda pembaca yang mungkin tersinggung akibat konten artikel ini, ya bagus. Saya sendiri tersinggung. Mudah-mudahan kita yang tersinggung ini bisa berubah, sehingga tidak lagi mengerjakan sesuatu secara asal-asalan.

Sekian, saya akhiri opini asal-asalan ini. Sampai jumpa lagi di lain kesempatan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar