Entah apa yang membawa saya untuk membuat tulisan ini. Sebenarnya ini hanyalah sebuah lamunan diatas motor dalam perjalanan Bandung – Jatinangor, 1 hari setelah Gunung Kelud di Kediri meletus pada tanggal 13 Februari 2014. Namun sepertinya cukup menarik untuk dituliskan, sebagai bahan berbagi lamunan.
Sontak Gunung Kelud di Kediri menjadi perbincangan dan fokus sebagian besar masyarakat Indonesia ketika meletus dengan dentuman dan semburan yang dahsyat. Puluhan ribu masyarakat mengungsi, abu vulkanik tertiup angin ke barat dan meninggalkan jejak di setiap daerah yang dilewatinya. Tentu hal ini luar biasa, maka khalayak menyebutnya sebagai “Bencana Alam” ataupun “Musibah”. Nah, kata-kata ini yang sebenarnya menjadi awal mula lamunan saya.
Ketika berbicara mengenai “bencana” atau “musibah”, saya pribadi ataupun mungkin kita akan berpikir mengenai suatu kejadian hal yang membuat kerugian dalam skala yang besar. Entah dalam konteks korban jiwa, maupun kerugian moril dan materiil. Namun ada rasa tidak setuju dalam diri saya, ketika letusan gunung atau gejala alam lainnya dikategorikan sebagai “bencana” ataupun “musibah”. Sebab, dalam pandangan saya letusan gunung tersebut merupakan cara alam untuk menjaga keseimbangan. Sebab semua yang ada di alam ini dinamis, dan akan selalu bergerak untuk menjaga keseimbangannya, termasuk alam. Tak terbayangkan bagaimana jika energi yang begitu besar di dalam bumi terus terkumpul tanpa bisa terlepaskan dan terjadi ketidakseimbangan yang terus-menerus. Tentu suatu waktu akan terjadi ledakan yang maha dahsyat. Maka untuk menyeimbangkannya, gunung api menjadi salah satu tempat untuk mengeluarkan energi yang telah terkumpul tersebut lewat sebuah erupsi.
Kemudian, lamunan saya bertambah lebar dan melenceng. Saya melamunkan bagaimana setiap yang ada di alam ini pasti akan mencari keseimbangannya masing-masing. Bagaimana suatu atom yang mempunyai elektron tak berpasangan, kemudian elektron tersebut akan berikatan dengan elektron dari atom lain untuk menemukan keseimbangannya. Bagaimana seorang pria kemudian berpasangan dengan seorang wanita untuk menemukan keseimbangan. Dan semua yang ada di alam ini dinamis dan terus menjaga keseimbangannya, maka pasti semua akan saling memengaruhi. Hal ini membuat keseimbangan bukanlah sesuatu yang settle, namun kita harus terus bergerak untuk menjaga keseimbangan tersebut. Seperti kata Einstein, hidup ibarat naik sepeda, kita harus terus bergerak untuk menjaga keseimbangan. Bahkan, sekalipun kita diam, organ-organ dalam tubuh kita terus bekerja dan berinteraksi secara tepat untuk menjaga keadaan homeostatis. Jadi, sejatinya kita tidak pernah betul-betul diam. Diam artinya kita tidak akan pernah mencapai keseimbangan, dan diam artinya kita mati.
Sama halnya alam, alam tak pernah diam. Jika alam diam, mungkin tak ada kehidupan yang terjadi. Apa jadinya jika bumi tidak berotasi? Tidak akan ada siang dan malam bergantian pada suatu tempat. Bagaimana tumbuh-tumbuhan dapat berfotosintesis pada sisi yang selalu malam? Bagaimana suplai oksigen bisa tercukupi? Bagaimana manusia dan hewan dapat bernafas dengan cukup? Maka semua benda yang ada di alam semesta ini pasti bergerak untuk mendapatkan keseimbangan, yang semuanya telah diatur secara sempurna oleh Sang Pemilik Keseimbangan.
Juga dalam gejala letusan gunung kemarin. Dalam pandangan saya, selain menyeimbangkan energi berlebih dalam bumi, letusan gunung juga dapat menyeimbangkan kembali unsur-unsur hara pada tanah yang sangat penting dalam kesuburan tanah untuk kelangsungan dan kualitas tanaman, dan beberapa tahun kemudian akan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat karena tanah yang subur menghasilkan pohon, buah, dan sayur yang lebih baik lagi dari sebelum letusan.
Maka, apakah kita lantas menyebut semua gejala alam ini sebagai bencana ataupun musibah? Rasanya kurang tepat dan kurang adil, jika kita lihat dari sudut pandang bahwa yang terjadi adalah “alam ini sedang menjaga keseimbangannya”. Maka saya lebih memilih menyebut semua ini sebagai suatu gejala alam saja. Gejala yang timbul dalam proses menjaga keseimbangan alam.
Lamunan pun berakhir, seiring terhentinya motor saya di tempat tujuan. Tapi tak luput, mari kita bantu saudara-saudara kita yang terkena dampak dari kejadian ini, baik melalui doa, dukungan moril, ataupun materiil. Sebagai makhluk sosial, sebagai manusia yang butuh manusia lain, sebagai manusia yang selalu saling berinteraksi untuk saling menjaga keseimbangan hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar