Selasa, 04 Maret 2014

Yang Baik Dan Yang Buruk


      Malam sudah menjelang, namun pikiran masih menjalang. Kuliah pagi di esok hari rupanya tak membuat mata ini menyerah untuk terpejam. Lalu saya iseng melamun, sembari menunggu rasa kantuk datang menyerang. Celakanya, lamunan ini justru membuat saya bertanya-tanya :

Apakah semakin tua manusia justru semakin sulit membedakan yang baik dan yang buruk?

    Mengapa saya berpikir seperti itu? Jika kita ambil contoh gampang, kira-kira begini. Sewaktu kecil, kita selalu diajarkan bahwa buang sampah sembarangan itu salah, merokok itu tidak baik, mencontek itu tidak diperbolehkan, mencuri itu salah. Betul, sewaktu kecil kita akan sangat ketakutan apabila kita melakukan hal-hal tersebut. Tapi mengapa ketika kita sudah bertambah usia, dan kita sudah dapat berpikir secara logis dan rasional, justru hal-hal tersebut dengan tanpa rasa takut kita lakukan dengan berbagai dalih dan alasan. Buang sampah sembarangan, merokok di tempat umum, mencontek saat ujian, korupsi, dan mengambil hak orang lain seolah kita lakukan tanpa ada rasa takut meskipun kita tau bahwa hal tersebut salah.
      Jika seperti itu, saya lalu berpikir apakah kematangan kita dalam menentukan baik buruk justru terjadi saat pemikiran kita masih polos?  Ketika kita hanya mengetahui bahwa ini baik, itu buruk. Harus begini, harus begitu. Sementara, ketika kita sudah dapat berpikir logis dan rasional, justru kita sangat mudah melakukan hal yang buruk dan tidak sesuai dengan pemahaman kita sewaktu kanak-kanak.
     Namun, saya mencoba berpikir lebih jauh. Ketika kita masih polos, apa yang kita terima tak ubahnya sebuah dogma.Ini baik, ini buruk. Ini betul, itu salah. Harus begini, harus begitu. Dan kita akan menerimanya mentah-mentah tanpa kita pikirkan mendalam. Sehingga kita akan betul-betul menjalankan sesuai apa yang kita terima. Dan kemudian, kita bertambah tua. Bertambah matang. Pada fase ini, kita akan berpikir lebih logis dan mendalam. Maka ketika kita semakin dewasa, kita tidak akan menyatakan sesuatu baik atau buruk karena dogma, melainkan kita menemukan kebenaran tersebut berdasarkan buah pemikiran kita. Karena kita akan selalu beranggapan ini  belum tentu benar ataupun itu belum tentu salah ketika berhadapan dengan suatu perkara.  
      Memang tidak serta merta semua manusia dewasa bisa menentukan mana yang baik mana yang buruk, karena banyak manusia yang enggan berpikir atau tidak peduli. Sesuatu yang buruk justru bisa dibilang baik. Dan pemikiran subjektif dijadikan pembenaran untuk melakukan hal yang buruk. Maka seolah terjadi degradasi seiring pertambahan usia manusia tersebut, karena dia tidak dapat menggunakan pikirannya secara baik untuk menemukan mana yang baik dan mana yang buruk. 
      Jadi, bukanlah semua manusia ketika beranjak tua justru makin sulit membedakan baik dan buruk. Yang ada hanyalah manusia yang semakin dewasa namun enggan berpikir akan menjadi sulit membedakan yang baik dan yang buruk.

Akhirnya pemikiran tersebut berujung pada suatu pertanyaan :

“Apakah saya termasuk orang yang enggan berpikir dan tidak peduli?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar