Malam sudah
menjelang, namun pikiran masih menjalang. Kuliah pagi di esok hari rupanya tak
membuat mata ini menyerah untuk terpejam. Lalu saya iseng melamun,
sembari menunggu rasa kantuk datang menyerang. Celakanya, lamunan ini justru
membuat saya bertanya-tanya :
Mengapa saya berpikir seperti itu? Jika kita ambil contoh
gampang, kira-kira begini. Sewaktu kecil, kita selalu diajarkan bahwa buang sampah
sembarangan itu salah, merokok itu tidak baik, mencontek itu tidak
diperbolehkan, mencuri itu salah. Betul, sewaktu kecil kita akan sangat
ketakutan apabila kita melakukan hal-hal tersebut. Tapi mengapa ketika kita
sudah bertambah usia, dan kita sudah dapat berpikir secara logis dan rasional,
justru hal-hal tersebut dengan tanpa rasa takut kita lakukan dengan berbagai
dalih dan alasan. Buang sampah sembarangan, merokok di tempat umum, mencontek
saat ujian, korupsi, dan mengambil hak orang lain seolah kita lakukan tanpa ada
rasa takut meskipun kita tau bahwa hal tersebut salah.
Jika seperti itu, saya lalu berpikir apakah kematangan kita dalam menentukan
baik buruk justru terjadi saat pemikiran kita masih polos? Ketika kita
hanya mengetahui bahwa ini baik, itu buruk. Harus begini, harus begitu.
Sementara, ketika kita sudah dapat berpikir logis dan rasional, justru kita
sangat mudah melakukan hal yang buruk dan tidak sesuai dengan pemahaman kita
sewaktu kanak-kanak.
Namun, saya mencoba berpikir lebih jauh. Ketika kita masih polos, apa yang kita
terima tak ubahnya sebuah dogma.Ini baik, ini buruk. Ini betul, itu salah.
Harus begini, harus begitu. Dan kita akan menerimanya mentah-mentah tanpa kita
pikirkan mendalam. Sehingga kita akan betul-betul menjalankan sesuai apa yang
kita terima. Dan kemudian, kita bertambah tua. Bertambah matang. Pada fase ini,
kita akan berpikir lebih logis dan mendalam. Maka ketika kita semakin dewasa,
kita tidak akan menyatakan sesuatu baik atau buruk karena dogma, melainkan kita
menemukan kebenaran tersebut berdasarkan buah pemikiran kita. Karena kita akan
selalu beranggapan ini belum tentu benar ataupun itu belum tentu salah
ketika berhadapan dengan suatu perkara.
Memang tidak serta merta semua manusia dewasa bisa menentukan mana yang baik
mana yang buruk, karena banyak manusia yang enggan berpikir atau tidak peduli.
Sesuatu yang buruk justru bisa dibilang baik. Dan pemikiran subjektif dijadikan
pembenaran untuk melakukan hal yang buruk. Maka seolah terjadi degradasi
seiring pertambahan usia manusia tersebut, karena dia tidak dapat menggunakan
pikirannya secara baik untuk menemukan mana yang baik dan mana yang
buruk.
Jadi, bukanlah semua manusia ketika beranjak tua justru makin sulit membedakan
baik dan buruk. Yang ada hanyalah manusia yang semakin dewasa namun enggan
berpikir akan menjadi sulit membedakan yang baik dan yang buruk.
“Apakah saya termasuk orang yang enggan berpikir dan tidak peduli?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar